Jumat, 09 November 2018

SENJA DI LANGIT BIRU


Malam itu bulan nampak indah menyerupai potongan buah semangka. Sinarnya menerobos jendela menerangi ruangan di mana Senja berada. Listrik padam sejak pagi, dan Senja belum cukup cerdas untuk mengetahui mengapa sering terjadi pemadaman listrik di desanya. Ia hanya tahu bahwa saat listrik padam, ada lilin yang bisa digunakan untuk menerangi rumah kecilnya. Juga sinar bulan tentunya, itupun kalau tidak sedang bulan mati atau langit berawan.

Senja masih memandangi rembulan dari bawah jendela. Matanya berbinar memancarkan energi yang nampak luar biasa. Energi rindu. Rindu akan sesuatu yang tak mudah diterka siapapun kecuali Ibunya. Bahkan jika rindu itu memiliki masa, hati mereka tak akan mampu menampungnya.

“Senja, tidur yuk!” Ibunya keluar dari dalam kamar.

“Besok pasti datang kan, Bu?” Senja menengadah menatap wajah Ibunya yang berdiri di belakangnya.

Ibunya hanya tersenyum tak menjawab pertanyaannya.

“Bu?” Tatapannya semakin dalam.

“Nanti kita shalat tahajud ya, minta sama Allah supaya Bapak segera pulang.”

*

“Mas, tolong dipikirkan. Jangan mengambil keputusan secepat itu. Ia berjalan perlahan keluar dari dapur dengan membawa segelas teh.

“Dek, Mas tidak tahu harus bagaimana lagi. Uang pesangon nggak akan bisa menghidupi kita. Apalagi satu bulan lagi kamu diperkirakan melahirkan. Mana ada uang Yu?” Wajah pria itu tenggelam dalam keputusasaan dan kegelisahan.

“Kita jual saja ladang dari Bapak. Uangnya bisa digunakan untuk modal usaha. Tentang biaya persalinan biar Ayu pinjam sama Ibu.”

“Kamu bercanda? Kamu kan tahu bagaimana dulu orang tuamu tidak setuju kita menikah, apalagi…”

“Apalagi Mas pernah menolak bantuan Bapak. Mas… biar Ayu yang bicara dengan Bapak,” ujar Ayu berusaha meyakinkan suaminya.

Mereka saling pandang. Fajar selalu mengagumi Ayu. Wanita yang di nikahinya 15 bulan yang lalu. Ketika orang tua Ayu bersikeras menentang pernikahan mereka, Ayu tetap mampu meredam emosi bapaknya, ia mampu membela pria yang berani meminangnya dan meyakinkan sang Bapak bahwa mereka akan hidup bahagia meskipun ada perbedaan strata di antara mereka berdua.

“Terima kasih Dek…” senyum pun merekah menggantikan gurat kegelisahan di wajah Fajar

*

“Ibu, teman-teman Senja kalau pulang sekolah dijemput Bapaknya, tapi Senja kok nggak ada yang jemput? Bapak kemana, Bu?” Kepulan asap dari kayu bakar membuatnya memicingkan mata ketika berjalan menuju dapur. Ibunya sedang memasak.

Ayu tidak menanggapi pertanyaan putrinya. Ia hanya tersenyum sambil tetap menggoreng irisan tipis pisang dari kebun belakang rumahnya. Kemudian Ayu menggeser tempat duduknya mendekati Senja.

“Sabar ya Nak, Bapak sedang mencari uang yang banyak untuk Senja. Kalau sudah punya uang banyak, Bapak pasti pulang.” Jawabnya.

“Bapak ngga sayang sama kita ya, Bu?”

Ayu sedikit tersentak mendengar pertanyaan anaknya.

“Senja ngga boleh berpikir begitu, Bapak pergi cari uang karena sayang sama Senja. Senja sayang kan sama Bapak?”

“Iya!” Dengan penuh antusias Senja mengangguk. Ia mendekati Ibunya lalu memeluk erat. “Senja sayang Bapak dan Ibu. Bapak sayang Ibu dan Senja. Bapak nanti pulang bawa uang banyak untuk Ibu dan Senja.”

*

Malam itu, gerimis tampak lebih menakutkan dari hujan yang biasanya mengguyur desa hingga banjir. Gelap tak sekedar menyelimuti rumah-rumah disana, tetapi juga menjadi tirai yang membungkus hati Ayu. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa segelisah itu. Suaminya belum juga pulang, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas.

Sudah seminggu Fajar pergi. Padahal ia berjanji akan pulang hari itu. Sebenarnya Ayu sudah mencegah kepergian Fajar, tetapi dengan alasan ingin meminjam uang pada teman yang tinggal di kota, Fajar berhasil membujuk Ayu.

Tok… tok… tok…!!!

Suara ketukan pintu mengejutkan Ayu. Dengan susah payah ia bangun dari duduknya dan berjalan tertatih menuju ruang tamu. Ia berharap yang mengetuk pintu itu adalah suaminya.

“Ibu…??” sahut Ayu terkejut. Ibunya langsung masuk ke dalam sementara Bapaknya baru muncul dari balik pintu dengan memakai mantel hujan. Nampaknya ada urusan yang sangat penting. Pikir Ayu.

Setelah mengeringkan badan, orang tua Ayu mengajaknya berbicara.

“Ibu buatkan teh dulu ya, Pak.” Ibu Ayu bangkit menuju dapur.

“Biar Ayu saja Bu…” Ayu pun ikut bangkit.

“Kamu di sini saja, kasihan perut kamu,” kata sang Bapak.

Untuk beberapa saat Ayu berkonsentrasi penuh pada bait-bait syair dalam gerimis yang menyimpan sejuta misteri. Tidak ada puisi burung hantu tentang kerinduan pada kekasihnya, atau doa syahdu jangkrik-jangkrik liar pada Tuhan tentang harapan dan impian, juga gemulai daun-daun kelapa yang memetik dawai malam. Hanya katak yang dengan riang gembira mengucap syukur atas berkah hujan pada Sang Pencipta.

“Bagaimana kondisi kandunganmu, Nduk?” Tanya Ibunya sambil membawa nampan berisi 3 cangkir teh.

“Alhamdulillah sehat Bu. Setiap minggu rajin periksa ke dukun beranak.” Jawab Ayu.

Mendengar jawaban Ayu, Bapaknya menyela. “Dukun?” Bapaknya menggelengkan kepala. “Besok pagi kamu ikut pulang, kamu melahirkan di rumah bersalin saja, supaya terjamin keselamatannya.”

“Tapi Pak...” belum sempat Ayu meneruskan kata-katanya, Ibunya sudah menyahut.

“Suamimu kemana, Nduk?” Tanya Ibunya sambil celingukan.

Ayu menelan ludah mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus di katakannya? Namun akhirnya ia beranikan diri bersuara.

“Hmm.… Mas Fajar pergi ke kota Bu,” dengan ragu-ragu Ayu menjawab.

“Apa? Gila…! Suamimu memang gila, Yu. Istri hamil tua kok ditinggal!” Seketika emosi Bapak Ayu meninggi.

“Sudahlah Yu, kamu pulang besok pagi sama Bapak dan Ibu. Kamu jangan keras kepala. Kalau ada apa-apa sama kamu, apa suamimu mau tanggung jawab?” Ibunya ikut-ikutan kesal.

“Bu…”

“Kamu masih mengharap suamimu pulang?” Belum selesai kata-katanya, Bapak sudah menyelanya. “Apa yang kamu harapkan dari dia…?! Suami macam apa dia…? Bapak menyesal merestui pernikahan kalian!!” Emosi Bapaknya semakin meluap.

Amarah memecah keheningan malam. Lalu gerimis pun reda. Menyisakan misteri tentang cinta, air mata, harapan, kekecewaan, penyesalan dan kegelisahan dalam hati. Ketiganya terduduk diam, menikmati tetes hujan yang masih berjatuhan dari atap rumah itu. Namun jauh di lubuk hatinya, jauh di dalam relung jiwanya, Ayu menangis. Bukan karena nasibnya, tetapi karena ia tak mampu membela orang yang di cintainya di hadapan orang tuanya.

*

Hampir saja pisang yang tengah di gorengnya hangus bila tak segera tersadarkan diri dari lamunan. Baru saja ia beranjak dari duduknya, terdengar teriakan dari luar yang cukup mengagetkannya.

“Ibu…!! Ibu…!! Ternyata di sini.” Dengan nafas tersengal-sengal Senja berlari mendekati Ibunya.

“Ada apa lari-lari? Kok baru pulang? Sekarang jam berapa? Seharusnya kan 3 jam yang lalu Senja pulang?” Tanya Ibunya sambil mengelap tangannya bekas minyak goreng. Ia berdiri dan menyalami anaknya. “Dari mana saja sih?”

“Bu, tadi ada Bapak-Bapak yang datang ke sekolah, dia bilang dia teman Ibu. Senja diajak jalan-jalan ke pantai Bu, dia juga membelikan baju untuk Senja dan Ibu. Dia juga menitipkan uang untuk Ibu, katanya, itu untuk membayar utang dia sama Ibu.” Senja bersemangat menceritakan apa yang di alaminya tadi.

Sementara itu, mata Ayu terpusat pada kalung yang dikenakan Senja. Ia mendekati putrinya yang sedang asiknya mencoba baju pemberian Bapak-Bapak yang ditemuinya di sekolah. Ayu mengamati kalung itu dengan seksama.

“Boleh Ibu pinjam kalungnya sebentar?” Pinta Ayu pada Senja yang tak mempedulikan Ibunya.

“O iya Bu, kata Bapak-Bapak tadi, kalung itu untuk Ibu.” Ujar Senja sambil melepaskan kalungnya dan menyerahkannya pada Ayu.

Ketika menerima kalung itu, tangan Ayu gemetar. Badannya lemas, dingin merasuk menembus pori-pori tubuhnya. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup menahan beban air mata yang sudah memenuhi kantung matanya. Namun melihat Senja yang dengan tertawa riang di hadapannya, ia mencoba menahan tangisnya. Sesak. Emosinya tertahan tanpa mampu terlampiaskan.

*

Lagi. Di bawah jendela, setelah maghrib saat sinar senja masih tersirat bagai berkas emas di langit, Senja terduduk. Menunggu seseorang. Seseorang yang tak pernah menggendongnya ketika pertama kali ia melihat dunia. Seseorang yang tak pernah menuntun tangannya ketika belajar berjalan. Seseorang yang sampai kapanpun akan selalu di rindukannya meski tak sekalipun ia tahu rupanya.

Pekat mulai menyelimuti desa. Tak ada rembulan. Tentu saja, hari itu sudah masuk bulan mati. Senja bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki kecilnya keluar rumah. Ia ingin menghampiri Ibunya yang sedang duduk di teras. Menikmati gulita yang terkadang menenteramkan jiwa mereka.

“Ibu…” Sapa Senja yang langsung disambut seulas senyum Ibunya.

Kedua Ibu anak itu duduk bersandingan. Berbicara, tertawa, tak mempedulikan kegundahan yang menggelayuti pikiran masing-masing. Bagi Ayu, jika memang suaminya tak akan pernah kembali, ia pasrah. Ia akan tetap mencintainya seumur hidupnya. Ia bersyukur bahwa Fajar telah menghadirkan Senja dalam hidupnya. Hingga ketika ia kehilangan sinar di pagi hari, masih ada keindahan sore yang menyambutnya. Keindahan "senja" di langit biru.

Tak jauh dari tempat mereka bercengkerama, sosok tegap mengintai dari balik pohon. Wajahnya nampak lebih kurus dibandingkan sepuluh tahun lalu. Lelaki itu berjalan perlahan, tetapi baru beberapa langkah ia mengurungkan niatnya. Ia berbalik, terus berjalan menjauh dari apa yang sejak tadi di amatinya. Lalu tenggelam di antara kegelapan.

Rabu, 07 November 2018

HAMPA


Malam semakin larut, terlihat seorang pria sedang membaringkan tubuhnya di sofa mewah. Dari kejauhan terdengar suara seorang wanita memanggilnya.

        “Dave..!! Jangan bergadang lagi! Ayo tidur, besok kita  harus bertemu calon tunanganmu loh!”.

          “Aku belum ngantuk, bu”. Sahut pria itu.

Tiba-tiba ia melangkahkan kakinya menuju gudang dan dicarinya sebuah album foto dalam rak buku yang telah berdebu. Dipandangnya satu persatu  foto usang itu. Seketika ia melihat foto seorang gadis berseragam putih abu-abu dengan senyum yang terukir diwajahnya, seakan membuatnya terganggu.

         “Huuuhhh, kau sungguh menyiksaku”. Gumamnya dalam hati sambil menghembuskan napas dengan perlahan.

Dipandang lagi foto gadis itu. Terlintas sosok wanita seusianya yang sedari dulu ia rindukan.

Gadis itu siapa lagi kalau bukan kekasih lamanya. “Qyran!” panggilnya dalam hati.

Dave dan Qyran memang pernah menjalin hubungan istimewa pada saat mereka berada di bangku SMA dan bagi Dave, Qyran adalah gadis pujaan hatinya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan gadis tercintanya. Namun sejak musim panas di pertengahan tahun lalu, semua terasa berubah.

          “Ada apa denganmu,Qyr! Aku enggak mau hubungan kita jadi gini!”.

Pinta dave dengan ucapan yang terbatah-batah. Ia terus menggenggam tangan Qryan dan memeluk erat tubuh gadis mungil itu.

          “Aku enggak sayang lagi sama kamu!”

Tegas gadis berlesung pipih itu dengan suara nada tinggi lalu pergi meninggalkannya.

Namun Dave hanya dapat memanggil nama gadis itu sambil berlinangkan air mata, berharap agar ia akan kembali dan merangkulnya dengan mesra.

Yah, masih teringat jelas kisah pahit itu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sampai ia beranjak dewasapun, tak terlihat lagi gadis itu.

Hingga kini hati kecilnya terus mempertanyakan apa penyebab Qyran meminta putus dengannya. Ia tentu tak mau menerima hal ini jika hubungan mereka harus berakhir begitu saja tanpa alasan yang tak jelas.

Ia kemudian menghampiri mejanya lalu mulai menulis penggalan-penggalan kata dengan tinta pena pada kertas putih.

Dearest : Qyran

Ku titip rindu pada selembar daun gugur yang kau tinggalkan di musim panas pertengahan tahun lalu. Walau tak berarti, namun hargailah perasaanku. Aku merindukanmu.

                                      Dave

“Qyr, apa kau tahu betapa hatiku hanya menginginkanmu ?

Tak pernah aku menghapus namamu, sedetikpun itu bayangmu selalu hadir menghantuiku. Tetapi cukup rasa ini terkurung, karena semua begitu menyiksa. Aku tidak bisa bertahan lagi. Tanpamu, aku hampa! Aku selalu menunggumu,Qyr. Sampai kapanpun itu”

Dave kembali membayangkan raut wajah gadis pujaannya.

Ia kemudian berjalan ke tempat keramaian tanpa memikirkan kemana tujuannya. Sebuah mobil sedan seketika menabraknya. Tubuhnya tak berdaya lagi, namun didalam pikirannya hanya ada sebuah nama terindah. “Qryanku sayang.. Aku masih mencintaimu”.

Cinta Sesaat

Kekasihku..

Padamu aku terhanyut..

Dalam  kenikmatan cintamu..

Asmaramu semakin menenggelamkanku..

Ah..

Sayangnya..

Mengapa hanya sesaat

CINTA UNTUK SIAPA?


‘’Siapa sangka jika kamu masih menyimpan rasa pada gadis itu’’.

Bisik seorang gadis dengan dress casual hitamnya yang sedari tadi kesal memperhatikan lamunan kekasihnya.

‘’Aku hanya sedang letih, Ver’’. Jawab laki-laki itu dengan suara lembutnya.

Ia lalu menarik tangan gadis berkulit sawo matang itu sambil membelai rambut pendeknya yang tergerai lurus. Seketika gadis itu tersenyum kemudian dikecupnya kening gadis yang sedang berhadapan dengannya.

‘’Erik, Aku mencintaimu. Sampai kapan hatimu menanti cinta yang palsu ?’’. Ucap gadis itu lalu memeluk laki-laki yang ia cintai.

Namun siapa sangka laki-laki itu sebenarnya tidak bisa menipu hatinya sendiri yang masih menyimpan dalam-dalam rasa cinta pada kekasih lamanya yang telah pergi keluar negri lantaran urusan bisnis keluarganya dan berjanji tuk kembali lagi. Namun sampai kapan penantian ini berlanjut setelah 3 tahun kau pergi.. batinnya.

Ingatannya lagi-lagi masih tertuju pada kekasih lamanya. Hatinya memang sudah terlanjur mencintai gadis yang dulunya pernah mengisi hari-harinya dengan bahagia. Ia selalu memikirkan gadis itu kapanpun ia mau demi menenangkan hatinya. Berulangkali ia mencari pelarian atas cintanya yang pergi, tetapi semua terasa biasa dan tak berarti apa-apa untuknya. Hingga kali ini ia menemukan perempuan yang menurutnya bisa menghilangkan rasa cintanya yang dulu, membiarkan cerita baru dan mencoba memulai kisah cinta baru.

          Ingatannya masih saja tertuju masa lalunya. Betapa hati ini sungguh merindukannya. Caranya membuat dirinya terus memujanya. Cantiknya, manjanya, tatapannya, suaranya, senyumannya, sungguh membuat hati ini luluh seketika. Ini tahun ketiga setelah engkau pergi dariku.

Apa kabar dirimu ? Ucapnya dalam hati.

***

“Selamat pagi sayang”. Terdengar suara dari seberang sana. Seperti biasa Vera, kekasihnya setiap pagi selalu membangunkannya melalui smartphone hadiah ulang tahun dari ayahnya setia .

“Sayang, ayo bangun! Kamu janjikan pagi ini mengajakku ke taman?” tambahnya dengan suara manja. Erik melangkahkan kakinya dan mengamati sebuah lingkaran tinta merah pada kalender yang bertulis back home-honey. Hatinya semakin sedih, ia menyeka keringat dari alisnya dengan tangan gemetar. Tepatnya hari ini perempuan yang telah lama dinantikan seharusnya kembali kepelukannya.

“Setidaknya ketika jauh, kamu masih menungguku. Ya kan ?” Hibur kekasihnya yang hendak berpamitan denganya. Ucapannya masih terngiang digendang telinganya meski dirinya sudah memulai kisah cinta baru bersama orang lain sebab gadis yang telah lama pergi tak lagi mengabarinya.

Erik lalu bergegas untuk bersiap-siap menjemput Vera, gadis bermata sipit yang selalu memperlihatkan sisi manja seperti gadis-gadis lainnya ketika hendak bertemu pacarnya. Erik mengenakan kaos oblong putih dengan bawahan jeans hitam. Penampilannya terlihat keren layaknya seorang K-Pop. Vera terkagum-kagum tiap kali melihat kekasihnya tiba dengan penampilan menariknya. Sangat tampan hingga ia tak bisa memalingkan matanya. Ia kemudian merangkul lengan laki-laki itu dan memeluknya. Erik hanya bisa menerima perlakuan mesra gadis itu sambil membelai rambutnya yang tertata rapi. Disela-sela pelukan itu, Erik masih memikirkan bagaimana bisa ia dapat menghilangkan rasa cintanya pada kekasih lamanya sedangkan ada orang lain yang telah setia dan sabar menerima bahkan menemaninya dalam kesedihannya menanti cinta yang tak terbalas.

“Ver..” Bisiknya pelan tepat didaun telinga gadis mungil itu. Tanpa memperdulikan suara laki-laki itu, Vera terus memeluknya dan semakin lama kian semakin erat.

          “Vera sayang...” panggilnya lagi dengan suara lembut. Gadis itu tidak menjawab meski ia ingin berkata iya.

Entah datangnya darimana perasaan laki-laki berkumis tipis itu tiba-tiba seperti tertusuk jarum. Terasa begitu perih didasar hatinya. Didapati suara tangisan gadis yang memeluknya. Apa yang sudah ku perbuat ? Heningnya dalam hati sembari melihat gadis yang berada dihadapannya masih menangis. Tidak hanya mendengar suara tangisannya namun air matanya perlahan sudah berlinang mengenai kaosnya.

          “Jangan pernah membohongi perasaanmu dengan membagi cinta palsu”. Mendengar kalimat yang dilontarkan gadis itu Erik seketika menatap wajah gadis itu dan menghapus air matanya.

“Kali ini aku akan rela melepasmu, jika dia masih pilihanmu”. Timpalnya sembari menepis tangan laki-laki yang sudah membuat hatinya berulangkali merasa terluka.

Kemudian ia pergi meninggalkan laki-laki itu. Erik hanya mampu melihatnya sembari berlalu. Hatinya benar-benar kacau. Ia diharuskan untuk memilih kepada siapa hatinya berada.

Hari-haripun berlalu, tidak terdengar lagi suara manja dari seberang sana yang membangunkannya setiap pagi. Ia segera bergegas ke sebuah tempat dimana cintanya pernah pergi meninggalkannya semenjak 3 tahun lalu. 

Dilihatnya seorang gadis mengenakan dress pink soft dengan handbag ditangannya. Seorang gadis yang bersabar untuk menghadapi keegoisannya. Seorang gadis yang ikhlas menjadi tempat sandarannya mengaduh rindu. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju gadis yang selama ini ia rindukan.

Kamulah alasanku untuk lupakan yang lain, disaat waktu untuk mencintai masih ada”.Ucapnya lembut.

Gadis itu berpaling dan membalasnya dengan memberi senyuman tulus dan memeluk laki-laki yang ia cintai dengan sepenuh hati. Setidaknya kekasihnya mampu memilih hati yang selama ini berusaha mencoba agar keluar dari masa lalu yang menyiksanya dengan harapan palsu.

“ I will love you more,Ver “ bisiknya sambil mengecup kening gadis itu.

 

Di tempat inilah yang mempertemukannya dengan seseorang gadis yang bukan hanya cantik namun juga setia menemani kesedihannya selama hatinya belum siap melepaskan cinta lama untuk pergi.

End

MAMA

Aku membukakan pintu pada seseorang yang telah lama pergi meninggalkan rumah tua ini dan kini ia kembali pulang dengan kemeja kusutnya. Direbahkan badannya ke sofa merah tepat disebelah pot bunga hadiah almarhum suaminya. Aku sesekali melihatnya tersenyum pada foto yang terpajang indah pada tiap sudut jendela dan tertata rapi seperti 15 tahun lalu.

Ia terus tersenyum hingga nampak sebuah senyum terlebar dari sebelumnya ketika mendapati aku sedang memperhatikannya keheranan.

“Kamu persis cantiknya seperti mama kamu.” Ucapnya dengan suara seraknya namun aku hanya diam dan tak ingin merespon perkataannya. Ia sedang berusaha memulihkan kekakuan kami saat itu. Ia mulai mengambil pot bunga berwarna coklat berhias cangkang siput dan mulai mengamati kalau-kalau akan ada debu yang menempel disekitarnya.

“Pot ini juga masih terlihat cantik ya ?” Ia memulai lagi pembicaraan untuk menghentikan kebisuan diantara kami. Aku lalu memalingkan wajahku seketika, mengarahkan mataku pada sebuah pot coklat yang masih cantik nilai estetikanya walaupun telah 15 tahun bersandang pada meja kayu.

Ya 15 tahun lamanya..

Ketika ayahku terpaksa memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang adalah ibu kandungku sendiri. Keputusan yang seharusnya tidak perlu dilakukan akibat paksaan dari kedua orangtua ayahku lantaran menginginkan seorang cucu laki-laki untuk mewariskan keturunan suku ayahku dan hal tersebut tidak bisa dikabulkan oleh istri pertamanya sebab ia mandul.

Sekarang wanita yang pernah diceraikan ayahku berada tepat disebelah kananku. Sejak tadi ia mencari topik pembicaraan untuk memulai keheningan di ruangan ini.

“Dewi sudah memiliki pacar belum?” Tanyanya menggoda dan memulai lagi. Kali ini aku tidak sanggup menahan diri untuk menjawabnya.

“Kenapa tante datang setelah tante pergi meninggalkan Dewi dan ayah Dewi?”

Jawabku kesal tidak mampu membendung air mata yang perlahan jatuh.

“Dewi sayang.. Tante harus melakukannya. Tante tidak memiliki hak untuk tinggal bersama kalian.”

“Ayah Dewi hanya mencintai tante seorang sedangkan mama Dewi tidak pernah menginginkan Dewi sebagai anak perempuan.”

“Dewi benci harus lahir ke dunia.” Teriakku membentak wanita itu.

Wanita itu kemudian mendekatiku dan menghapus air mataku. Ia mengecup keningku dan memelukku. Aku merasakan halusnya tangan sosok wanita lembut itu yang sedang membelai rambutku.

Aku tidak pernah menemukan sosok seorang ibu pada mamaku sendiri. Mamaku bahkan lupa kapan ulang tahunku, makanan kesukaanku, tempat favoritku. Namun wanita ini yang sudah ditinggakan ayahku dengan ikhlas menahan luka untuk kebahagian oranglain. Selalu menyisihkan waktu mendengar celotehku, membantuku mengerjakan tugas sekolah, memberikan hadih tiap aku berulang tahun. Ia selalu jadi sosok ibu yang pengerti untukku, meski aku bukan dari rahimnya. Tapi rasa sayang yang ia beri selalu menjadi rasa tepat untuk ku mengaduh tentang gelapnya dunia.

Wanita ini.. Walau tidak pernah mengerti betapa sakitnya pengorbanan seorang ibu yang memperjuangkan anak-anaknya untuk lahir ke dunia namun ia mengerti bagaimana membahagiakan anak oranglain dari mantan suami yang telah menceraikannya. Sakitnya memang tidak sebanding, namun akan dirasakan sepanjang usianya.  

“Jangan pergi lagi, tante. Dewi sekarang tidak punya siapa-siapa selain tante.” Pelukku erat seolah tidak ingin ia pergi.

“Iya, sayang.. Tante janji.”

“Dewi boleh memanggil tante dengan sebutan mama?” Pintaku memohon.

Wanita itu mengangguk cepat lalu memelukku erat sambil menangis.

“Aku ingin memanggilmu mama yang selalu ada untukku meski bukan aku yang terlahir dari rahimmu.”

The end

YOUR PLUTO

                      

You are my sun,
but sometimes,
you shine too bright,
honey.
And it's burning my skin.
But still, I'll love you. 

You are my moon,
but I have to wait,
till the night comes,
to see you. 
And waiting is hurting me.
But still, I'll love you with
my skin burning and my heart
tired of waiting.

You are my stars,
but I got lost,  guessing,
which star you really are.
But still, I'll love you with
my skin burning,  my heart aching
and my mind confusing. 

You are my whole universe,
but what am I to you?

I am just your Pluto.

Because I am just
too
far
from
you.

Oleh:edho paju

RINDU YANG MERDEKA

Telah kuputuskan untuk kibarkan bendera perang.
Setelah sekian lama jiwa di jajah rindu tak kunjung temu pandang.
Yang terus menyiksa pada diam yang semakin memanjang.

Dengan hanya menyisakan sepi ngilu relung kalbu,
Terhempas pada kehampaan yang pilu
saat kutahu
Malamku hanya sajikan bayang semu.

Kini, kan kucoba bangkit perangi rindu.

Kutunggangi sajak mengitari jarak....
Lepaskan rangkaian peluru kata dengan serentak...
Menjadi kalimat yg menjelma ujung tombak..

MATILAH SUNYI...
MUSNAHLAH SEPI..
HANCURLAH BENALU DI HATI...
MERDEKA LAH JIWA DI NANTI.

dan utuk RINDU......
Kan kubiarkan dia terbentang bebas..
Dengan aksara yang tak kunjung lepas...
Dari makna yg begitu luas...

MONOLOG SENJA

Mungkin aku hanya merindu Pada kenangan yang dulu Yang hanya ada di masa lalu, Saat kita menjelajahi sore Sembari menikmati alunan forte, Yang membuat kita terus bersorak "hore!" Saat kau bermain piano Menghidupkan nada-nada alegro,

Menghadirkan keindahan pseudo Aku berpikir dalam sepi Apakah rindu itu berarti Sebab yang lampau tak akan kembali.