Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

YOUR PLUTO

                      

You are my sun,
but sometimes,
you shine too bright,
honey.
And it's burning my skin.
But still, I'll love you. 

You are my moon,
but I have to wait,
till the night comes,
to see you. 
And waiting is hurting me.
But still, I'll love you with
my skin burning and my heart
tired of waiting.

You are my stars,
but I got lost,  guessing,
which star you really are.
But still, I'll love you with
my skin burning,  my heart aching
and my mind confusing. 

You are my whole universe,
but what am I to you?

I am just your Pluto.

Because I am just
too
far
from
you.

Oleh:edho paju

RINDU YANG MERDEKA

Telah kuputuskan untuk kibarkan bendera perang.
Setelah sekian lama jiwa di jajah rindu tak kunjung temu pandang.
Yang terus menyiksa pada diam yang semakin memanjang.

Dengan hanya menyisakan sepi ngilu relung kalbu,
Terhempas pada kehampaan yang pilu
saat kutahu
Malamku hanya sajikan bayang semu.

Kini, kan kucoba bangkit perangi rindu.

Kutunggangi sajak mengitari jarak....
Lepaskan rangkaian peluru kata dengan serentak...
Menjadi kalimat yg menjelma ujung tombak..

MATILAH SUNYI...
MUSNAHLAH SEPI..
HANCURLAH BENALU DI HATI...
MERDEKA LAH JIWA DI NANTI.

dan utuk RINDU......
Kan kubiarkan dia terbentang bebas..
Dengan aksara yang tak kunjung lepas...
Dari makna yg begitu luas...

MONOLOG SENJA

Mungkin aku hanya merindu Pada kenangan yang dulu Yang hanya ada di masa lalu, Saat kita menjelajahi sore Sembari menikmati alunan forte, Yang membuat kita terus bersorak "hore!" Saat kau bermain piano Menghidupkan nada-nada alegro,

Menghadirkan keindahan pseudo Aku berpikir dalam sepi Apakah rindu itu berarti Sebab yang lampau tak akan kembali.

Selasa, 23 Oktober 2018

KAMI INDONESIA

Ada makna yang tertinggal
Ketika bulan berganti tanggal,ada sejarah yang akan menjadi kekal,lewat bahasa indah yang aku kenal.

Pada sebua ruang sebatang lilin kujadikan penerang,lalu kugoreskan penaku pada kertas usang,agar curahan hati inipun tertuang.

Penaku mulai berbicara,bergelayut pada dunia dalam sastra,dia hadir sebagai pelantun askara jiwa,menyentuh jiwa bagaikan sakralnya mantra sejuk di kalbu bagaikan doa.

Kini askara itu telah kurangkai pada setiap bait yang kuurai,kuntunjukan pada jiwa jiwa yang damai,agar jiwanya dapat terbelai.

Wahai jiwa nestapa!!
Hidup ini sungguh bermakna tapi entahlah, kenapa?bagi mereka yang menodahi pancasiala  membawa tuhan dan agama dalam wacana itu biasa?berontaklah jiwa!!.

Kami seperti wanita wanita pelacur dalam sebutan peria jehanam,harapan kami di basuhi ludah ludah kotor dan menjijikan.kami ditipu permainan cantik kaum oligarki sangat lihaiy,moral kami ambruk tuhan kami di curi.

Sabarlah jiwa sengsara, yakinlah pada satnya akan tiba langit mengenangmu dalam doa,dalam genggamnya kita bahagia.

Wahai jiwa jiwa yang merenggut waktu,ingatlah pada duka sesamamu,mungkin sudah cukup engkau menjadi manusia.tetapi manusiakanlah sesama manusia,agar budaya bangsa kami tetap terjaga.
Karena aku dia,dan mereka adalah INDONESIA.

Penulis:edho paju
Mahasiswa fakultas hukum untirta jakarta.

Jumat, 21 September 2018

"KAU" YANG TAK TERLIHAT JANGAN TAMBAH SATU LAGI


Aku menikmati saat-saat itu;
perjumpaan dua dunia.

Kau bawa sesuatu dari duniamu,
yang jauh tak terjamah..
dan aku bingkiskan beberapa potong kata dari keseharianku,
tertiup sajak bernada magis menembus tipisnya kelambu jagadmu..

Memang,
segelintir sahabat lain mencibir..
mereka bilang pertemanan kita
tabu

Harusnya,
aku hanya dengan sesamaku..
Kau,
mestinya hanya dengan sebangsamu..
Jangan bertemu, berteman,
apalagi bercampur..

Tabu..

Aku hanya menjawab dengan gurauan kecil..
Bukankah pertemanan berarti,
menjangkau-yang-tak-terjangkau:
diri pribadi,
orang lain,
ciptaan,
termasuk juga makhluk-lain-dunia?

Bantahan mereka, jelas:
ini bukan pertemanan,
tapi perselingkuhan melawan iman!!

Ufh!!
Masuk telinga kiri..
keluar juga di telinga yang sama..

Anjing menggonggong,
khalifah tinggal memberi tulang..
Beres, tho?

...

Tapi,
toh aku merasa terganggu juga..
Akhir-akhir ini..

...

Kau kelewat banyak berbisik..
Entah kenapa, aku jadi terusik.
Terusik untuk peduli..

Awalnya satu..
Dua kali..
Dan akhirnya lagi dan lagi-lagi...

...

Aku juga kelewat banyak meminta..
Entah kenapa, kau selalu memberi
tanpa pernah mengharap imbalan..

Menerawang..
Melihat masa depan..
Mengartikan mimpi..

Hhhh...

...

Aku tahu,
kebersamaan ini tak bisa kudapatkan di warung pojok,
dengan ramai debat diskusi filosofis teman-teman sekampus..
Pun di antara sesama pecinta filter, kopi dan kompiang;
mereka tak bisa mengisi kekosongan yang kau tinggalkan..

Tapi,
aku ingin sejenak berhenti..

Semoga kau mengerti..

...

Bukan karena tabu,
juga bukan karena kita sudah tak cocok lagi..

...

Biarkan aku sejanak dewasa,
untuk bisa memahami..
Biarkan aku menikmati sepenggal waktu hidupku yang tak abadi,
untuk bisa mencerna
kenapa ini hanya terjadi di antara kita; kau dan aku,
dan segelintir orang..

...

Aku belum bisa yakin,
apakah ceritanya akan lain,
andaikan dulu kita satu dunia
dan kau bukan makhluk tak kasat mata..

Tapi,
bila kau ingin tahu,
apa sepotong sembahku setiap fajar
setahun belakanngan,
tak apa-apa:

"Tuhan,
aku ingin punya lima indra saja..
Tolong, jangan tambah satu lagi...

Amin."




Kemayoran baru,jakarta pusat.jakarta/20/09/18

Senin, 03 September 2018

INDONESIA DALAM SELIMUT KORUPSI

HUMANISME TRAGEDI

umulbuldan fantastika
kuda besi mewah sekali
tidak padan sebulan gaji
mandat hebat leher bertali
singgahsana cerucuk besi
satu entiti dalam hierarki
sesat berautonomi
rakus lahap monopoli peribadi
dominasi hadiah-hadiah berupa ufti
manusia berkepala jerung berlidah ular
tamak gelojoh kerbau pendek
fundamental oportunisme
hidangan bawah meja
membuat senyum menampakkan gigi
segulung ijazah sandiwara di dinding
sembunyi hakikat diri
seorang pengamal korupsi

Kasak Kusuk Negeriku indonesia
Oleh:edho paju
Bukan maksud menghina
Bukan , bukan negara yang anjing
Namun hukum yang kurang adil
Dimana yang kaya diatas segalanya
Dan yang miskin dijadikan sumber derita ..
Apa ini yang dimaksud Negara
Pancasilah bukan hanya rumusan
Ataupun tulisan ...
Ini adalah pondasi yang diperlukan untuk indonesia,Kenapa, kenapa yang tenar malah jadi duta..
Atau yang cantik jadi segalanya ..
Yang tercelah malah jadi raja
Yang memberi motivasi berhadiah penjara
Dimana keadilan .. ??
Sila kedua itu diperlukan ..
Janggan diabaikan ...
... atau ini hanya untuk rakyat kecil
Yang berpangkat bebas melanggar dogma dogma negara ...
Derajat dipentingkan ..
Belaskasih dan kesadaran hilang, tiada
Tiada yang tau .. namun
Apakah logikamu masih jernih
Apakah masih bisah berfungsi ..
Woey , woey , woey ...
Kehidupan tiada yang imortal gan .
Kematian pastikan datang ...
Apa pangkat dan gelarmu dibawa keakhirat ..
Atau kekayaanmu, Bahkan selir selir cantikmu
Tidak .. tidak akan ...
Agama tidak sebecanda itu kawan
Disini aku menulis ..
Mungkin karna aku lelah dengan gosip ataupun berita berita
Ini suaraku ...
Jangan jadikan dendam membara
Aku hanya ingin keadilan ..
Karna aku atau, aku tak ber-uang seperti para koruptor
Ataupun penjabat penjabat yang kotor ...
Aku hanya rakyat kecil ..
Namun aku tau tentang
Arti dari sila kedua
Aku masih , masih inggat dalam pelajaran sekolah ...
Sukarno-hatttaYang mengorbankan segalanya demi masa depan negara ...
Merekah berpeluk teguh dalam agama  ...
Yang menggangap semuah agama saudara, bahkan mereka ikhlas, nyawanya melayang
demi negara ...
Mereka mampu mempersatukan
Beberapa banyak agama .
Dan memperkuat tali perasatuan diantara pulau pulau di indonesia ..
Bhineka tunggalika
Conto nyata, pahamilah .....
Tentang arti dari kemanusiaan ..
Tentang arti dari keadilan yang mereka tegaskan ...

Dimana Keadilan
Oleh:edho paju
Berkali kali kumemaki.
Berkali kali kumerutuki.
Tentang keadaan yang semakin carut marut.
Tentang pertiwi yang mungkin mulai mengeriput.
Oh Indonesia ku.
Apa yang sedang kau rasakan sekarang.
Kenapa di dalammu hanya berisikan para pembual saja
Yang hanya bisa mengotori dan merusak indah alammu.
Oh Nyonya pertiwi.
Tak bosankah kau mendengar jerit sakit kaum marjinal.
Yang rumah dan pekerjaan nya di rampas paksa, oleh penguasa yang mengatasnamakan
pembangunan raksasa.
Oh garudaku, tak janggalkah kau melihatnya, pria gendut berpakaian rapih yang tertawa
terbahak bahak di antara perut perut yang lapar. Di antara luka luka yang melebar. Dan Di
antara mayat mayat yang terkapar.
Dimana keadilan ?
yang namanya tertulis jelas dalam pancasila. Kemana harus mengadu.
Teriak kami tak terdengar.
Pudar menjadi samar.
Hilang dalam desingan peluru. yang sering kali nyasar.

Oh merah putihku, Teruslah berkibar dengan gagah di atas sana. Sebagai tanda kami
baik baik saja. Sebagai satu-satunya alasan kami untuk bangga. Sebagai pengingat
bahwa bumi kami (Indonesia) sangatlah kaya.
Hai Koruptor dan manusia manusia kotor lain nya.
Nyenyakkah tidurmu ??

Sabtu, 18 Agustus 2018

KENANG AKU DALAM DAULAT NEGERI YANG MERINTIH

Rahasia kekuasaan yang tiada terbantahkan ilusi gamang menerka secercah harap menyatu tentang segala sesuatu yang terus merenda mutiara syahdu lamunan igau yang tempias satu persatu berjalan bimbang mementas batas inilah hasil libur yang kau rasakan Kenang aku dalam daulat negeri yang merintih betapa indah hidup penuh irama dan liku berbatas waktu cumbuan merayu seksama tegur sapa lirih berpindai kelembutan janji alur tegas ambisius poranda penuh peran batas lirih ketiadaan yang begitu hampa selalu ada usaha untuk terus menjadi yang terbaik Agar hidup tak berbuah sia-sia fitrah naluri mengembang tugas panjang meremang membaur potensi jelita memantik arus yang bimbang hidup menyerta gelimang risih menasbih batas pandangan meremang kekuatan lantang menoreh kehendak berpacu lagu sendu meramu Kau keren teramat luar biasa sekali apa yang sedang mereka perbincangkan saat itu intim merajut segala janji yang pongah mengatasi sunyi sepanjang tentu mereka yang terus tetap bertahan hingga kini kendali waktu aroma sensasi berseri.

Jakarta/07/18

DI BERANDA SUNYI

Sore ini riang-riang ribut di luar kamar, Dan saya ribut di dalam kamar Mengasah tajam-tajam sunyi di hati.

Sambil main-main dengan sunyi Saya membuka jam minum kopi “Ada kopinya, hanya perlu ditambah Sebatang kata untuk berlebaran puisi.”

Riang-riang masih saja ribut Diikuti teriakan orang-orang Tanpa kecewa Ia mengajar isyarat keheningan: “Bawalah aku kepada kepala dan hatimu Jangan lupa menulis nama-Ku Di seluruh puisimu.”

Edho paju
Anyer/02/04/16

ZIARAH

Segala hari kami adalah ziarah, Kepada entah Dan berapa lama jejak-jejak patah?

Kami seperti mimpi Di tidurmu yang tidak tidur,Di malam kami layu Kau tak dapat dirayu, kan?

Hidup kami hanyalah tanggal Menuju tahun ketujuh puluh Jika kuat delapan puluh Hingga kami melayang lenyap Pergi pun tidak, mati pun taak.

Edho paju
Jakarta/07/08/18