Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2018

KAMI INDONESIA

Ada makna yang tertinggal
Ketika bulan berganti tanggal,ada sejarah yang akan menjadi kekal,lewat bahasa indah yang aku kenal.

Pada sebua ruang sebatang lilin kujadikan penerang,lalu kugoreskan penaku pada kertas usang,agar curahan hati inipun tertuang.

Penaku mulai berbicara,bergelayut pada dunia dalam sastra,dia hadir sebagai pelantun askara jiwa,menyentuh jiwa bagaikan sakralnya mantra sejuk di kalbu bagaikan doa.

Kini askara itu telah kurangkai pada setiap bait yang kuurai,kuntunjukan pada jiwa jiwa yang damai,agar jiwanya dapat terbelai.

Wahai jiwa nestapa!!
Hidup ini sungguh bermakna tapi entahlah, kenapa?bagi mereka yang menodahi pancasiala  membawa tuhan dan agama dalam wacana itu biasa?berontaklah jiwa!!.

Kami seperti wanita wanita pelacur dalam sebutan peria jehanam,harapan kami di basuhi ludah ludah kotor dan menjijikan.kami ditipu permainan cantik kaum oligarki sangat lihaiy,moral kami ambruk tuhan kami di curi.

Sabarlah jiwa sengsara, yakinlah pada satnya akan tiba langit mengenangmu dalam doa,dalam genggamnya kita bahagia.

Wahai jiwa jiwa yang merenggut waktu,ingatlah pada duka sesamamu,mungkin sudah cukup engkau menjadi manusia.tetapi manusiakanlah sesama manusia,agar budaya bangsa kami tetap terjaga.
Karena aku dia,dan mereka adalah INDONESIA.

Penulis:edho paju
Mahasiswa fakultas hukum untirta jakarta.

Sabtu, 23 Juni 2018

KOPI SENJA

Adakah kubisikkan di senjah yang tidak ramah pada kita, kita biarkan kopi menjadi dingin di cangkir tua itu, gerimis pun iba pada air mata di tepi pisah. Bisu mengadu, beku, kopi itu membeku, hati itu kelu. Lagu itu menjadi syahdu. Karena ku jatuh cinta pada caramu menerjemahkan luka. Sebuah bayang menari dan terjatuh pada secangkir kopi senja.  Yang Kau goreskan syair luka pada secangkir kopi lalu kau hempaskan pada senja hingga pecah berkeping. Kuselipkan rembulan pada  sajak sepekan ku, karena malam yang berlalu masih menyimpan janji yang tertunda. Seba'it puisi tentang seseorang yang duduk di bawah sinar rembulan yang menghilang dalam remang gelap. Besok akan kukembalikan rembulan dengan beberapa sketsa tentangmu agar kau tahu senjah berikutnya aku masih terduduk di awan menunggu janji itu, menunggu lamunan itu selesai agar lembar terakhir buku harian itu tergores. Aku menunggu . -Kopi senjah, tetap pahit- Aku tidak pernah membencimu luka, maaf bila syair yang kugoreskan lewat angin timur membuat sendu, tapi engkau tahu luka itu memberi lembayung di sisiku. Kita berdua tahu, kau sang kopi senjah dan aku lembayung senja. Bila aku tak lagi bergantung di matamu, maka sore esok kau hanya akan menjadi ampas. Tapi aku tetaplah senja. Aku hanya penambah nikmat indah bagi hati syahdu yang slalu merindu luka di setiap sore yang mampu aku datangi. Tidak perlu berduka,katamu. engkau tetap indah tanpaku. Bila di hari esok kau berhati syahdu terduduk di serambi, semoga kau sempatkan melihat sore hadir menyapa kopi yang mulai dingin. Kau tertunduk lesu karena malam mencuri senjamu. Lembayungmu telah disiram amat hitam, pekat menjalar tak menyisakan ruang warna tapi jangan kau salah kan syair magis agin timur.

Edho paju

Rabu, 06 Juni 2018

KOPI ASIN SANG PENULIS &(kebohongan yang indah)

  KOPI ASIN SANG PENULIS &(KEBOHONGAN YANG INDAH)

Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki² biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.  Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki² begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis dalam hatinya. Tiba² si laki² berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.  Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya,"Kebiasaanmu kok sangat aneh?". "Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka ber-main² di laut, di mana aku bisa merasakan laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini",jawab si laki². "Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki² yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya... Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki² idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian... pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin !  Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.  Setelah 40 tahun berlalu, si laki² meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu²nya kebohonganku padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."  Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab, "Rasanya begitu manis."..   #kopi asin sang penulis  Untuk apa mencita hal yg manis...asin..juga perlu kaan..??? 

Ep/mn

Selasa, 05 Juni 2018

Yang Kau Pinjam Dari Garuda Sambil merapatkan syal dan mendekap kertas-kertas di dada, Ryan mempercepat langkah. Cuaca makin dingin, batin Ryan dalam hati. Angin yang dinginnya menggigit menerpa wajah Ryan yang kekuningan, khas kulit orang Asia. Jalanan tampak sepi. Wajar saja, hari sudah senja dan ini sudah masuk musim gugur. Cuaca yang dingin dan berangin tidak akan membuat orang tahan berlama-lama di luar. Tapi bagi Ryan, cuaca ini sudah menjadi sesuatu yang akrab, bahkan mulai disenanginya. Mata Ryan menjelajahi jalan kecil yang dilaluinya. Lalu seperti kebiasaannya saat kebetulan pulang pada saat senja, ia mampir ke kedai kopi kecil yang ada di ujung jalan kecil itu. Kedai kopi yang sepi dan kecil. Ryan berbelok dan membuka pintu kedai kopi, suara lonceng kecil yang berdentang menyambutnya. Dan ia segera duduk di meja yang biasa ia duduki. Meja yang dekat dengan jendela yang menghadap keluar. Agak terpojok memang, tapi jauh lebih tenang daripada tempat yang lain. Ryan mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum, memanggil seorang pelayan yang tak jauh darinya. Pelayan tersebut langsung mendekatinya. “One pancake and coffee, please, (Satu porsi pancake dan kopi, tolong)” ucap Ryan sambil tersenyum. Pelayan tersebut balas tersenyum lalu mengangguk dan mencatat pesanan Ryan. Lalu pelayan itu pergi, menyiapkan pesanan. Hari itu sepi menggantung di dalam kedai kopi. Yang terdengar hanya suara kopi yang sedang diseduh, atau desis pancake dipenggorengan. Yang lainnya, senyap. Ryan membuka tas ranselnya, mengaduk dalamnya, dan akhirnya mendapatkan apa yang dicarinya. Sepucuk surat yang sebenarnya sudah ia baca di kelas tadi, namun ia kembali rindu dengan tulisan indah ibunya. Ryan tersenyum, membaca ulang surat tersebut. Ibunya yang masih di Jakarta bercerita tentang adik bungsunya yang sekarang sudah mahir bersepeda, mendapat juara di kelas. Juga cerita tentang bibi-nya yang akan segera menikah. Dan pertanyaan yang sama disetiap penutup surat-suratnya. Sekali lagi Ryan tersenyum, sekaligus merasa ngilu dihatinya. Ryan menarik selembar kertas kosong dan pena. Ia mulai menulis. Membalas surat yang dikirim ibunya beberapa hari yang lalu. Ryan menulis tentang keadaannya di negeri orang ini, bagaimana kabar kuliah dan pekerjaan paruh waktunya, tentang tugas-tugas, dan kebahagiaannya atas kemajuan adiknya dan pernikahan bibi-nya. Lalu Ryan terdiam, ragu akan apa yang harus ditulisnya selanjutnya. Dan inilah, apa yang selalu ditulisnya sebagai penutup surat-surat yang dikirim untuk ibunya, “Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat, Bu.”. Ryan terdiam. Saat Ryan hendak melipat surat yang baru saja ditulisnya, lonceng kecil tanda pengunjung datang kembali berdentang pelan. Sesaat Ryan tidak peduli, tapi saat orang yang baru masuk itu berjalan melewatinya, sekejap Ryan menoleh. Ryan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, lelaki yang baru saja masuk itu, memakai batik? Lelaki itu memakai kacamata, tampak pintar dan tenang. Dan ia, berbatik! Itu yang paling penting. Ryan terus menatapnya, tidak peduli lelaki itu sadar atau tidak. Dan lelaki itu memilih untuk duduk tepat di belakang meja Ryan. Pertama Ryan beusaha tetap tenang, namun segera berbalik kearah lelaki itu untuk menyapanya. “Are you Indonesian? (Apakah kamu orang Indonesia?)” tanyanya Ryan tanpa basa-basi. Laki-laki itu terdiam sebentar, lalu senyumnya merekah lebar sambil mengangguk berkali-kali. “Orang Indonesia juga?” ia balik bertanya. Ryan mengangguk sambil tertawa. Keduanya tertawa. Sekejap kedai kopi yang tadinya sepi, mulai riuh dengan tawa mereka. “Ayo gabunglah bersamaku, aku sendirian,” ajak Ryan sambil menepuk sisi lain mejanya. Lelaki itu tertawa pelan lalu bangkit dari duduknya, bergabung bersama Ryan dimejanya. Baru mereka mau akan berbicara lagi, datang pelayan yang menantarkan pesanan Ryan. Lelaki itu mengisyaratkan bahwa ia ingin secangkir kopi, pelayan tersebut tersenyum lalu berlalu. “Omong-omong, namaku Ridho,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya, menunggu sambutan tangan Ryan. Dan Ryan cepat-cepat menjabat tangan Ridho. “Namaku Ryan,” keduanya lalu tertawa, lagi. “Sudah lama tidak bertemu dengan orang Indonesia lagi. Aku sempat kaget,” ungkap Ridho di sela tawanya. Ryan mengangguk membenarkan. “Aku juga. Tidak pernah aku bertemu orang Indonesia lain selain teman-teman sekuliahanku,” Ridho menaikkan alisnya, tertarik. “Kau mahasiswa?” tanyanya sambil melonggarkan syal yang dipakainya. “Begitulah,” jawab Ryan sambil tersenyum dan menambahkan gula dikopinya. “Kau juga mahasiswa?” Ryan balik bertanya. Ridho tersenyum. “Ya, tapi jika bersungguh-sungguh, akhir tahun ini aku akan lulus,” jawabnya. Ryan mengangguk mengerti. Sesaat keduanya diam. Yang terdengar hanya suara sendok Ryan yang membentur dinding cangkir kopinya. “Jadi, kau tidak pulang ke Indonesia? Kudengar bulan ini semua universitas meliburkan semua mahasiswanya,” Ridho kembali memancing pembicaraan. Ryan terdiam akan pertanyaan itu. Semua teman-temannya yang berasal dari Indonesia sudah pulang dari seminggu yang lalu. Tapi Ryan, ia tidak akan mau pulang. “Kau sudah lupa alamat rumahmu, ya?” itulah guyon yang selalu dilontarkan teman-temannya saat Ryan menolak untuk ikut pulang bersama mereka. Dan Ryan hanya tersenyum sebagai balasan. “Aku tidak pernah pulang ke Indonesia 2 tahun terakhir ini,” jawab Ryan saat ia sadar dari lamunannya. Seorang pelayan mendekati mereka, mengantarkan pesanan Ridho. Ridho mengucapkan terima kasih lalu pelayan itu berlalu. “2 tahun? Kerasan sekali rupanya,” canda Ridho. Keduanya tertawa. “Kenapa tidak pulang? Ini bulan yang baik untuk pulang. Lagipula cuaca akan semakin dingin.” Ridho masih penasaran. “Aku suka musim gugur,” jawaban singkat dari Ryan. Ridho tertawa kecil sambil mengaduk kopinya. “Kau pun tampaknya tidak pulang.” Ucap Ryan lalu menyeruput kopinya. “Ya, aku sedang dalam riset yang tidak bisa kutinggalkan. Lagipula awal tahun aku sudah pulang,” jawab Ridho. Ryan mengangguk. “Dimana kampungmu, Ryan?” tanya Ridho sambil mengangkat cangkir kopinya, menyeruputnya pelan. Kopi yang panas segera menetralkan suhu tubuhnya yang kedinginan. “Di Jakarta. Kampungmu dimana?” jawab Ryan sekaligus bertanya. Ridho meletakkan cangkirnya kembali sebelum menjawab. “Di Medan. Kau anak Jakarta rupanya. Tidak rindu dengan Monas?” gurau Ridho. “Aku lebih suka dengan Big Ben,” Ryan balas bergurau. Keduanya kembali tertawa. “Jakarta sudah maju sekarang,” ucap Ridho. Ryan tersenyum sinis. Maju ya…, batin Ryan dalam hati. Mau tidak mau, Ryan melempar kembali ingatannya akan masa lalunya di Jakarta. Masa-masa kelam yang tiap kali ia kenang akan membuat ngilu hatinya. Dulu Ryan hidup susah. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci baju, dan ayahnya tukang judi. Walau pun tukang judi, ayahnya tidak pernah marah-marah di rumah. Hanya tak bicara. Dulu Ryan terpaksa ikut kerja kecil-kecilan agar meringankan ibunya untuk membayar uang sekolahnya yang mahal. Walau pun hidup miskin, Ryan tidak malu belajar di sekolah yang sama dengan banyak anak-anak orang kaya. Walaupun sebagian besar anak-anak itu mengejeknya, Ryan tetap tidak peduli. Ryan ingat saat ayahnya meninggal, waktu itu umurnya baru 13 tahun. Ibunya terpaksa kerja keras. Ditambah lagi saat itu Ryan sudah mempunyai dua orang adik yang masih kecil-kecil. Hidupnya benar-benar susah. Ryan sedih tiap kali mengingat saat ibunya dilecehkan dan diejek karena bekerja sebagai tukang cuci. Tapi akhirnya Ryan lulus sekolah menjadi anak yang berprestasi. Ia memang tidak pintar. Tapi keuletannya berbuah manis. Ia lulus beasiswa bersekolah di Inggris. Dan sinilah ia sekarang, duduk di kedai kopi yang terletak di seluk beluk kota London, termenung mengorek kembali pedihnya masa lalu. Ryan memotong pancake-nya dengan garpu lalu berkata, “Aku tidak akan pulang. Ibuku dan adik-adikku akan aku bawa ke London. Aku akan bekerja di sini. Mengganti kewarnegaraanku dan keluargaku.” Ridho terdiam mendengarnya. Ryan dengan santainya mengangkat wajah sambil tersenyum, itu memang rencananya saat sudah lulus kuliah nanti. Ridho tertawa pelan. “Kau punya masa lalu yang buruk rupanya,” ucap Ridho sambil mengaduk pelan kopinya. Ryan tersentak mendengarnya. “Bagaimana aku tahu? Aku sudah menetap di Inggris selama 4 tahun. Aku bertemu dengan banyak orang dari banyak Negara. Tapi jujur saja, hanya orang-orang Indonesia yang mempunyai rencana yang sama denganmu. Mereka membenci Negara mereka sendiri. Aku pun sebenarnya juga punya masa lalu yang buruk, tapi aku sudah berdamai dengan masa lalu. Aku harus mengembalikan apa yang sudah aku pinjam.” Sambung Ridho. “Yang kau pinjam?” ulang Ryan bingung. “Kau pun meminjam hal yang sama,” ucap Ridho sambil tersenyum. “Aku tidak mengerti,” jawab Ryan. Ridho menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil terus tersenyum. “Wajar kau tak mengerti,” ucapnya. “Apa yang kita pinjam, adalah sayap Garuda. Kita sudah sampai di sini. Saat ini, memang kita di sini. Tapi suka dan duka kita alami di Indonesia. Kita ada di sini karena dasar yang kita dapat di sana. Ini hanya batu lompatan. Indonesia tetap rumah kita, dan kita harus mengembalikan sayap yang sudah kita pinjam. Kita bangun negeri kita, dan kita bantu anak-anak penerus kita agar bisa meminjam apa yang sudah kita pinjam.” Jelas Ridho. Ryan terdiam. Diam yang panjang. Tiba-tiba dering telefon berbunyi nyaring. Menyentak Ryan dan seluruh pikirannya. Ridho merogoh kantung celananya, dan terkejut. “Oh, aku terlambat untuk rapat riset-ku. Aku harus pergi sekarang,” ucapnya lalu segera meneguk habis kopinya yang sudah mendingin. Ia lalu bangkit dari duduknya, Ryan ikut bangkit. “Kau akan menangis melihat senyum rindu Ibu Pertiwi diwajah ibu-mu,” bisik Ridho. Tiba-tiba hati Ryan meleleh, mengingat senyum ibunya yang begitu teduh dan penuh sayang. Ridho menyodori Ryan selembar kartu nama. “Hubungi aku kapan saja. Senang bertemu denganmu, Ryan.” Lalu keduanya berjabat tangan. Sosok Ridho lalu berjalan keluar kedai setelah membayar tagihannya. Tinggal Ryan sendiri dengan sepiring pancake dan setengah cangkir kopinya. Ryan merogoh kantung celananya, mengeluarkan telefon genggamnya, menekan nomor telfon maskapai penerbangan. “Hello, is there any ticket to Indonesia tonight? (Hallo, apakah ada tiket untuk ke Indonesia malam ini?)” Edhopaju MJN.jakarta

Yang Kau Pinjam Dari Garuda

Sambil merapatkan syal dan mendekap kertas-kertas di dada, Ryan mempercepat langkah. Cuaca makin dingin, batin Ryan dalam hati. Angin yang dinginnya menggigit menerpa wajah Ryan yang kekuningan, khas kulit orang Asia. Jalanan tampak sepi. Wajar saja, hari sudah senja dan ini sudah masuk musim gugur. Cuaca yang dingin dan berangin tidak akan membuat orang tahan berlama-lama di luar. Tapi bagi Ryan, cuaca ini sudah menjadi sesuatu yang akrab, bahkan mulai disenanginya.

Mata Ryan menjelajahi jalan kecil yang dilaluinya. Lalu seperti kebiasaannya saat kebetulan pulang pada saat senja, ia mampir ke kedai kopi kecil yang ada di ujung jalan kecil itu. Kedai kopi yang sepi dan kecil. Ryan berbelok dan membuka pintu kedai kopi, suara lonceng kecil yang berdentang menyambutnya. Dan ia segera duduk di meja yang biasa ia duduki. Meja yang dekat dengan jendela yang menghadap keluar. Agak terpojok memang, tapi jauh lebih tenang daripada tempat yang lain.

Ryan mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum, memanggil seorang pelayan yang tak jauh darinya. Pelayan tersebut langsung mendekatinya.

“One pancake and coffee, please, (Satu porsi pancake dan kopi, tolong)” ucap Ryan sambil tersenyum. Pelayan tersebut balas tersenyum lalu mengangguk dan mencatat pesanan Ryan. Lalu pelayan itu pergi, menyiapkan pesanan. Hari itu sepi menggantung di dalam kedai kopi. Yang terdengar hanya suara kopi yang sedang diseduh, atau desis pancake dipenggorengan. Yang lainnya, senyap.

Ryan membuka tas ranselnya, mengaduk dalamnya, dan akhirnya mendapatkan apa yang dicarinya. Sepucuk surat yang sebenarnya sudah ia baca di kelas tadi, namun ia kembali rindu dengan tulisan indah ibunya. Ryan tersenyum, membaca ulang surat tersebut. Ibunya yang masih di Jakarta bercerita tentang adik bungsunya yang sekarang sudah mahir bersepeda, mendapat juara di kelas. Juga cerita tentang bibi-nya yang akan segera menikah. Dan pertanyaan yang sama disetiap penutup surat-suratnya. Sekali lagi Ryan tersenyum, sekaligus merasa ngilu dihatinya.

Ryan menarik selembar kertas kosong dan pena. Ia mulai menulis. Membalas surat yang dikirim ibunya beberapa hari yang lalu. Ryan menulis tentang keadaannya di negeri orang ini, bagaimana kabar kuliah dan pekerjaan paruh waktunya, tentang tugas-tugas, dan kebahagiaannya atas kemajuan adiknya dan pernikahan bibi-nya. Lalu Ryan terdiam, ragu akan apa yang harus ditulisnya selanjutnya. Dan inilah, apa yang selalu ditulisnya sebagai penutup surat-surat yang dikirim untuk ibunya, “Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat, Bu.”. Ryan terdiam.

Saat Ryan hendak melipat surat yang baru saja ditulisnya, lonceng kecil tanda pengunjung datang kembali berdentang pelan. Sesaat Ryan tidak peduli, tapi saat orang yang baru masuk itu berjalan melewatinya, sekejap Ryan menoleh. Ryan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, lelaki yang baru saja masuk itu, memakai batik?

Lelaki itu memakai kacamata, tampak pintar dan tenang. Dan ia, berbatik! Itu yang paling penting. Ryan terus menatapnya, tidak peduli lelaki itu sadar atau tidak. Dan lelaki itu memilih untuk duduk tepat di belakang meja Ryan. Pertama Ryan beusaha tetap tenang, namun segera berbalik kearah lelaki itu untuk menyapanya.

“Are you Indonesian? (Apakah kamu orang Indonesia?)” tanyanya Ryan tanpa basa-basi. Laki-laki itu terdiam sebentar, lalu senyumnya merekah lebar sambil mengangguk berkali-kali.
“Orang Indonesia juga?” ia balik bertanya. Ryan mengangguk sambil tertawa. Keduanya tertawa. Sekejap kedai kopi yang tadinya sepi, mulai riuh dengan tawa mereka.
“Ayo gabunglah bersamaku, aku sendirian,” ajak Ryan sambil menepuk sisi lain mejanya. Lelaki itu tertawa pelan lalu bangkit dari duduknya, bergabung bersama Ryan dimejanya. Baru mereka mau akan berbicara lagi, datang pelayan yang menantarkan pesanan Ryan. Lelaki itu mengisyaratkan bahwa ia ingin secangkir kopi, pelayan tersebut tersenyum lalu berlalu.
“Omong-omong, namaku Ridho,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya, menunggu sambutan tangan Ryan. Dan Ryan cepat-cepat menjabat tangan Ridho.
“Namaku Ryan,” keduanya lalu tertawa, lagi.
“Sudah lama tidak bertemu dengan orang Indonesia lagi. Aku sempat kaget,” ungkap Ridho di sela tawanya. Ryan mengangguk membenarkan.
“Aku juga. Tidak pernah aku bertemu orang Indonesia lain selain teman-teman sekuliahanku,” Ridho menaikkan alisnya, tertarik.
“Kau mahasiswa?” tanyanya sambil melonggarkan syal yang dipakainya.
“Begitulah,” jawab Ryan sambil tersenyum dan menambahkan gula dikopinya. “Kau juga mahasiswa?” Ryan balik bertanya. Ridho tersenyum.
“Ya, tapi jika bersungguh-sungguh, akhir tahun ini aku akan lulus,” jawabnya. Ryan mengangguk mengerti. Sesaat keduanya diam. Yang terdengar hanya suara sendok Ryan yang membentur dinding cangkir kopinya.
“Jadi, kau tidak pulang ke Indonesia? Kudengar bulan ini semua universitas meliburkan semua mahasiswanya,” Ridho kembali memancing pembicaraan. Ryan terdiam akan pertanyaan itu. Semua teman-temannya yang berasal dari Indonesia sudah pulang dari seminggu yang lalu. Tapi Ryan, ia tidak akan mau pulang.
“Kau sudah lupa alamat rumahmu, ya?” itulah guyon yang selalu dilontarkan teman-temannya saat Ryan menolak untuk ikut pulang bersama mereka. Dan Ryan hanya tersenyum sebagai balasan.
“Aku tidak pernah pulang ke Indonesia 2 tahun terakhir ini,” jawab Ryan saat ia sadar dari lamunannya. Seorang pelayan mendekati mereka, mengantarkan pesanan Ridho. Ridho mengucapkan terima kasih lalu pelayan itu berlalu.
“2 tahun? Kerasan sekali rupanya,” canda Ridho. Keduanya tertawa.
“Kenapa tidak pulang? Ini bulan yang baik untuk pulang. Lagipula cuaca akan semakin dingin.” Ridho masih penasaran.
“Aku suka musim gugur,” jawaban singkat dari Ryan. Ridho tertawa kecil sambil mengaduk kopinya. “Kau pun tampaknya tidak pulang.” Ucap Ryan lalu menyeruput kopinya.
“Ya, aku sedang dalam riset yang tidak bisa kutinggalkan. Lagipula awal tahun aku sudah pulang,” jawab Ridho. Ryan mengangguk.
“Dimana kampungmu, Ryan?” tanya Ridho sambil mengangkat cangkir kopinya, menyeruputnya pelan. Kopi yang panas segera menetralkan suhu tubuhnya yang kedinginan.
“Di Jakarta. Kampungmu dimana?” jawab Ryan sekaligus bertanya. Ridho meletakkan cangkirnya kembali sebelum menjawab.
“Di Medan. Kau anak Jakarta rupanya. Tidak rindu dengan Monas?” gurau Ridho.
“Aku lebih suka dengan Big Ben,” Ryan balas bergurau. Keduanya kembali tertawa.
“Jakarta sudah maju sekarang,” ucap Ridho. Ryan tersenyum sinis. Maju ya…, batin Ryan dalam hati. Mau tidak mau, Ryan melempar kembali ingatannya akan masa lalunya di Jakarta. Masa-masa kelam yang tiap kali ia kenang akan membuat ngilu hatinya. Dulu Ryan hidup susah. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci baju, dan ayahnya tukang judi. Walau pun tukang judi, ayahnya tidak pernah marah-marah di rumah. Hanya tak bicara.

Dulu Ryan terpaksa ikut kerja kecil-kecilan agar meringankan ibunya untuk membayar uang sekolahnya yang mahal. Walau pun hidup miskin, Ryan tidak malu belajar di sekolah yang sama dengan banyak anak-anak orang kaya. Walaupun sebagian besar anak-anak itu mengejeknya, Ryan tetap tidak peduli.

Ryan ingat saat ayahnya meninggal, waktu itu umurnya baru 13 tahun. Ibunya terpaksa kerja keras. Ditambah lagi saat itu Ryan sudah mempunyai dua orang adik yang masih kecil-kecil. Hidupnya benar-benar susah. Ryan sedih tiap kali mengingat saat ibunya dilecehkan dan diejek karena bekerja sebagai tukang cuci.

Tapi akhirnya Ryan lulus sekolah menjadi anak yang berprestasi. Ia memang tidak pintar. Tapi keuletannya berbuah manis. Ia lulus beasiswa bersekolah di Inggris. Dan sinilah ia sekarang, duduk di kedai kopi yang terletak di seluk beluk kota London, termenung mengorek kembali pedihnya masa lalu.

Ryan memotong pancake-nya dengan garpu lalu berkata, “Aku tidak akan pulang. Ibuku dan adik-adikku akan aku bawa ke London. Aku akan bekerja di sini. Mengganti kewarnegaraanku dan keluargaku.” Ridho terdiam mendengarnya. Ryan dengan santainya mengangkat wajah sambil tersenyum, itu memang rencananya saat sudah lulus kuliah nanti. Ridho tertawa pelan.
“Kau punya masa lalu yang buruk rupanya,” ucap Ridho sambil mengaduk pelan kopinya. Ryan tersentak mendengarnya. “Bagaimana aku tahu? Aku sudah menetap di Inggris selama 4 tahun. Aku bertemu dengan banyak orang dari banyak Negara. Tapi jujur saja, hanya orang-orang Indonesia yang mempunyai rencana yang sama denganmu. Mereka membenci Negara mereka sendiri. Aku pun sebenarnya juga punya masa lalu yang buruk, tapi aku sudah berdamai dengan masa lalu. Aku harus mengembalikan apa yang sudah aku pinjam.” Sambung Ridho.

“Yang kau pinjam?” ulang Ryan bingung.
“Kau pun meminjam hal yang sama,” ucap Ridho sambil tersenyum.
“Aku tidak mengerti,” jawab Ryan. Ridho menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil terus tersenyum.
“Wajar kau tak mengerti,” ucapnya. “Apa yang kita pinjam, adalah sayap Garuda. Kita sudah sampai di sini. Saat ini, memang kita di sini. Tapi suka dan duka kita alami di Indonesia. Kita ada di sini karena dasar yang kita dapat di sana. Ini hanya batu lompatan. Indonesia tetap rumah kita, dan kita harus mengembalikan sayap yang sudah kita pinjam. Kita bangun negeri kita, dan kita bantu anak-anak penerus kita agar bisa meminjam apa yang sudah kita pinjam.” Jelas Ridho. Ryan terdiam. Diam yang panjang.

Tiba-tiba dering telefon berbunyi nyaring. Menyentak Ryan dan seluruh pikirannya. Ridho merogoh kantung celananya, dan terkejut.
“Oh, aku terlambat untuk rapat riset-ku. Aku harus pergi sekarang,” ucapnya lalu segera meneguk habis kopinya yang sudah mendingin. Ia lalu bangkit dari duduknya, Ryan ikut bangkit.

“Kau akan menangis melihat senyum rindu Ibu Pertiwi diwajah ibu-mu,” bisik Ridho. Tiba-tiba hati Ryan meleleh, mengingat senyum ibunya yang begitu teduh dan penuh sayang. Ridho menyodori Ryan selembar kartu nama.

“Hubungi aku kapan saja. Senang bertemu denganmu, Ryan.” Lalu keduanya berjabat tangan. Sosok Ridho lalu berjalan keluar kedai setelah membayar tagihannya. Tinggal Ryan sendiri dengan sepiring pancake dan setengah cangkir kopinya. Ryan merogoh kantung celananya, mengeluarkan telefon genggamnya, menekan nomor telfon maskapai penerbangan.

“Hello, is there any ticket to Indonesia tonight? (Hallo, apakah ada tiket untuk ke Indonesia malam ini?)”

Edhopaju
MJN.jakarta

Jumat, 11 Mei 2018

Bocah Lampu Merah dan triakan haus akan keadilan “SELAMAT pagi. Selamat pagi. Selamat pagi. Selamat pagi semuanya,” begitulah bocah itu memberi salam setiap paginya ketika melewati lorong sempit itu. Anggur Merah nama lorong sempit itu. Dengan membawa sebuah tas, ia berlari melewati lorong sempit tersebut dengan penuh semangat. “Selamat pagi juga,” jawab orang-orang di setiap lorong tersebut dengan ramah. “Awas, hati-hati di jalan,” ada lagi yang memberi nasehat padanya. “Hei, jangan lari terus, awas jatuh,” nasehat pamannya, yang rumahnya di ujung lorong sempit tersebut. “Iya, Paman, terima kasih semuanya,” jawabnya ramah sambil melambaikan tangan kanannya kepada pamannya. * * * “Selamat pagi semuanya. Maaf aku terlambat.” “Pagi juga,” semua teman-temannya memberi salam balik padanya secara serempak. “Tidak apa-apa, kamu hanya terlambat satu menit kok,” salah satu temannya menambahkan. Raya namanya. Ia adalah pemimpin mereka. “Tapi tetap terlambat. Kita harus konsekuen dengan aturan yang kita buat sendiri. Artinya yang terlambat harus dihukum, apa pun alasannya,” bantah Agus, salah satu dari mereka. “Iya, iya, betul sekali. Kita harus konsekuen dengan aturan yang kita buat,” yang lain menambahkan. “Sudah, sudah. Baiklah kalau begitu. Menurut aturan yang telah kita sepakati bersama, maka ia hanya mendapat upah 50 persen untuk hari ini dari upah yang semestinya,” Raya memberikan putusan. Hari itu karena terlambat satu menit, bocah itu pun hanya menerima setengah upah dari yang semestinya. Namun, ia tetap bekerja dengan semangat seperti biasanya, karena itu adalah peraturan yang dibuat bersama dan harus dipatuhi apa pun alasannya. Semuanya bekerja dengan senang dan penuh semangat. Mereka adalah bocah-bocah lampu merah. Itu adalah nama atau julukan yang tepat buat mereka karena di sanalah mereka mencari dan mengais nafkah dan rejeki. Menjual surat kabar. * * * “Koran, koran, koran,” begitulah mereka berteriak menjajakan surat kabar itu. “Pak, korannya?” tawar bocah itu. “Maaf, sudah beli,” jawab bapak itu dengan wajah muram. “Mungkin lagi sedih karena ditinggal selingkuhannya,” gumam bocah itu dalam hatinya. “Adik-adik, berapa harga korannya?” tanya seorang ibu muda dari dalam mobil milik suaminya yang adalah seorang pejabat di daerah itu. “Tiga ribu rupiah, Bu.” “Ibu beli satu, ya. Ini uangnya.” Ibu muda itu pun mengambil uang dari dalam tasnya dan memberikannya kepada bocah itu dengan senyuman yang ramah. “Terima kasih banyak, Bu. Tuhan memberkatimu,” bocah itu mendoakan ibu itu. “Koran, koran, koran. Berita hangat, berita baru, pemerintah gratiskan biaya sekolah mulai dari SD, SMP sampai SMA!!!” bocah itu kembali berteriak dengan kerasnya untuk menjajakan korannya. “Berita hangat. Berita hangat, perselingkuhan terjadi di kantor-kantor pemerintah!!!” Yang lain pun ikut berteriak mengenai isi dari berita hari itu. “Koran, koran. Berita hari ini: Pegawai negeri sipil banyak berkeliaran di pasar pada jam kerja,” Raya pun tak mau kalah dari teman-temannya yang lain. Walaupun sebagai pemimpin di antara mereka, ia pun ikut menjual koran seperti yang lainnya. Bagi mereka pemimpin adalah sahabat yang turut merasakan apa yang dirasakan dan dialami oleh sahabat-sahabatnya. Mereka saling menolong dan melengkapi antara satu dan yang lain. * * * Waktu menunjukkan pukul 09.00. Koran-koran mereka telah terjual habis. Dengan rindang pohon taman di sekitar lampu merah itu, mereka berteduh di bawahnya. Bocah-bocah itu berusia dari 5 sampai 10 tahun. Keringat mengalir dari kening, wajah dan badan mereka. wajah mereka kelihatan lemas tapi mata mereka terus berbinar karena mereka telah bekerja dengan baik di pagi itu, di lampu merah itu. Bocah dari lorong Anggur Merah itu pun duduk bersila di tengah teman-teman yang lainnya. “Selamat, selamat buat kita semua. Hari ini kita telah bekerja dengan baik dan penuh semangat. Terima kasih untuk semuanya,” Raya meluapkan kegembiraan dan kebanggaannya kepada semua teman-temannya tersebut. Tapi di antara mereka ada yang belum lengkap. “Agus di mana?” tanya mereka serempak. Mereka mulai mencarinya. Ternyata ia masih menjajakan korannya. “Agus, apa korannya masih banyak yang belum terjual?” tanya bocah itu. “Tidak, ini tinggal satu saja kok,” sahutnya dari jauh. Setelah selesai menjualnya, Agus pun bergabung. “Maaf, ya, tadi aku kira sudah habis ternyata masih ada satu yang ketinggalan dalam tasku.” “Tidak apa-apalah, yang penting sekarang sudah terjual habis dan kita semua dapat berkumpul di sini kembali dengan lengkap. Asal saja jangan sampai kau dibeli, Gus,” Raya bergurau, yang membuat semua teman-temannya ikut tertawa dengan begitu lucunya. Waktunya untuk membagikan jatah untuk hari itu. Semuanya telah berkumpul dan siap untuk menerima jatah pada hari itu. Mereka berjumlah lima orang, dari tempat tinggal yang berbeda-beda. Karena hari itu, koran-koran yang terjual cukup banyak, maka mereka pun mendapat upah yang cukup banyak. Setiap orang mendapatkan dua puluh ribu rupiah. Bocah dari lorong Anggur Merah itu pun hanya mendapatkan 50 persen darinya, yakni sepuluh ribu rupiah. Tetapi ia tetap bergembira dengan semuanya itu dan juga teman-teman lainnya, karena semua itu adalah hasil keringat mereka sendiri dengan penuh kejujuran. Setelah menerima jatah yang dibagikan oleh Agus sebagai bendahara, mereka semuanya pun saling memberi salam dan berlompat kegirangan sambil bernyanyi dan menari. Bocah dari lorong Anggur Merah itu pun ikut larut di dalamnya. * * * Setelah menerima jatah masing-masing, mereka mulai bermimpi tentang masa depannya. Bercerita dan bermimpi untuk menjadi orang-orang yang terkenal dan terpandang. “Kalau aku besar nanti aku mau jadi Presiden. Dan aku akan menaikkan jatah buat penjual koran. Hahaha,” gumam salah satu orang dari antara mereka disertai tawa dari yang lainnya. “Agus, kalau kamu mau jadi apa nanti?” tanya Raya. “Kalau aku mau jadi anggota Dewan sajalah, seperti Anggota Dewan kita sekarang ini yang suka adu jotos, soalnya badanku besar dan full power. Jadi, pasti aku yang lebih kuat dan ditakuti. Hahaha.” “Bisa saja kamu, Gus,” sambil berkata demikian Raya menggelengkan kepalanya. “Kalau aku nanti jadi gubernur sajalah, biar bisa bangun taman-taman imitasi buat rakyat yang kebanyakan tidak sekolah karena biaya pendidikan yang melambung tinggi seperti sekarang ini dan juga jadikan lorong sempit Anggur Merah sebagai lorong tersempit di dunia. Hahaha.” Mimpi Raya disertai tawa dari bocah dari lorong Anggur Merah yang dan yang lainnya. Kemudian bocah dari lorong Anggur Merah itu pun ikut berucap, “Sebenarnya aku tidak suka kopi asin yang rasanya hambar dan tidak enak. Tapi aku telah minum kopi asin seumur hidupku. Aku tidak pernah merasa menyesal atas apa pun yang telah kulakukan untukmu. Hidup bersamamu sungguh merupakan kebahagiaan terbesar bagiku. Andai aku dapat hidup lagi untuk kedua kalinya, aku masih ingin mengenalmu dan hanya memilikimu dalam hidupku, walaupun aku harus minum kopi asin lagi sepanjang hidupku.” Selesai berucap demikian mereka pun meninggalkan tempat itu, Lampu Merah. Mereka kembali ke rumahnya masing-masing dengan mimpi-mimpi yang dibawanya dari lampu merah itu. Bocah itu pun kembali ke rumahnya melewati lorong sempit Anggur Merah itu. “Selamat siang, selamat siang, selamat siang, selamat siang semuanya,” salam bocah itu untuk setiap orang di lorong sempit Anggur Merah karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00.***

Edo paju