Jumat, 13 Juli 2018

GELAP SAPU JAGAT SERUPA KIAMAT

Rakyat kaum tani yang baru saja suka cita merayakan panen di ladang, seketika resah. Napas-napas penuh desah. Betapa tidak, terlebih setelah pagi hari tersiar kabar bahwa malam bakal terjadi sistem sapu jagat serupa kiamat. Dalam remang di sela kelam, jiwa siapa yang perkasa menerima kabar buruk tersebut. Semua berkelana dalam kabut, seperti kabutnya moyang dalam masa kependudukan Jepang. Kabar yang cepat terbawa angin itu entah dari mana asalnya, semua tak ada yang tahu. Yang pasti sejak pagi ini tentara Jepang tak akan lagi melatih bertaiso kepada kaum muda yang menyukai senam kesegaran jasmani Tak akan ada lagi komando 'sor araketek' sebagai riteme dalam olahraga terpimpin itu. Namun tiada penyekat tanpa celah, dalam cekam gelap pun ada setitik sinar. Karenanya semua harapan yang semula melipat gelap pun perlahan mulai berbinar. Terlebih kabar itu datangnya dari penguasa di mana sekejam atau dikatornya pun mana mungkin mau memusnakan kehidupan. Demikian pikir mereka dengan sungging senyum. "Tak perlu resah untuk semuanya, sistem ini merupakan mesin yang biuta di tengah gelap. Jadi, sebagai jalan keluarnya gunakan akal dan pikiran kita, setuju?" kata Bartolomeus, seorang tetua kampung memberikan pencerahan. Memang ia juga bisa disebut sosok politikus terpercaya di jaman pendudukan Jepang. Sosoknya yang cerdas kerap menengarai segala persoalan termasuk situasi yang tengah terjadi itu. Menurut penjelasan Kartoyo, cara terbaik untuk menyelamatkan segalanya hanya dengan cara merubah warna terang atau warna asli dengan yang gelap pekat. "Dengan cara ini saya yakin, ketika alarm datang semuanya bakal selamat!" tandasnya meyakinkan. Solusi cerdas itu seketika menyebar ke seluruh jagat negeri, terlebih bagi rakyat kaum tani yang telah memanen hasil ladangnya. Karena takut habis waktu, siang itu semua rakyat segera berbenah. Yang muda perkasa bersatu padu menggagli lobang sebagai bahan persembunyian, sementara yang lainnya mencari lumpur dan kotoran sapi. Setelah bilik-bilik mereka, lumbung padi, tempat sapi , kerbau serta hewan peliharaan lainnnya --termasuk bulu ayam , dipoles lumpur dan dilapis tahi sapi kemudian mereka semua masuk ke dalam tanah lobang galian. Demi kenyamanan dibuatlah penyamaran, yakni permukaan lobang itu ditutupi macam daun tumbuhan. Hari berangsur malam. Suasana pun gelap mencekam bagai kuburan di belantara. Betapa tidak, pengisap tembakau yang kerap menampakan warna kunang-kunang pun saat itu lenyap dibalik cerobong bambu. Tak boleh ada bisik maupun desis, kentut pun dilarang. Karena letih menyergap semua rakyat tertidur lelap semalam. Mereka bangun tengah hari dan berhamburan keluar. Ternyata warna gelap kotor itu tak mampu menangkal sapu jagat serupa kiamat itu. Buktinya, semua isi rumah, lumbung padi dan peliharaan hewan mereka semua ludes.(*)

MEMBACAH DUNIAMU DARI KUBURKU

" Mengapa" kau menangis tersedu, seperti bocah dikekang uang jajan saja. Haru biru meyaksikan keberuntungan yang seakan terlempar jauh darimu, Menatap sendu, semua pandangan kosong tanpa gerak maupun jentik, seakan beku. Demikianah tapa konyolku. Tafakur tak sampai. Keburu lunglai, segala kesal yang membuncah dalam gelas. Tanpa kopi, sehingga segala pandangan menjadi buram, tiada kunang-kunang. Yang selalu menemani ketika berjalan di pematang dan kerap hinggap di bajuku. Saat pulang mengaji. Kini tiada. Semua percikan mati dan puntung-puntung rokok basi bak bangkai terasi. Sedulur papat kelima pancer. Energi yang empat menjadi tak seimbang ketika satu tiang pemancang tak mampu jadi kendali. Arus angin, air, bumi dan api tak bersinergi karena satu tatanan runtuh. Kiamat. Selembar kain kapan melayang-layang di pusat kota. Namun tak seorang melihat fenomena alam tersebut karena mereka telah menjadi penampakan nyata. Karena sejak itulah aku ingin pulang dari kota, menempumi kampung-kampung para leluhurku yang lama kutinggalkan. Sedu sedan tangismu pun mulai mereda, kini. Ketika segala kebusukan kau lempar ke galaksi terjauh!**

Sabtu, 23 Juni 2018

Orang Manggarai "Orang Manggarai" adalah identitas yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah, bahasa, budaya, tanah-bumi, sungai-laut, dan falsafah hidup kelompok masyarakat di dan dari sebuah daerah yang terletak di ujung barat Pulau Flores - Nusa Tenggara Timur - Indonesia : "Orang Manggarai" Siapa orang Manggarai? Apakah sebutan 'orang Manggarai' hanya mengacu pada orang yang lahir, hidup, dan mati di Manggarai, dan karenanya terikat ritus serta alam Manggarai dari kelahiran sampai hidupnya setelah kematian? Apakah identitas sebagai 'orang Manggarai' bisa saja didapat karena ikatan perkawinan, karena hubungan pertalian darah, atau karena sekelompok orang "membabtisnya" sebagai orang Manggarai dalam upacara adat atau pembukuan administratif? Apakah predikat sebagai 'orang Manggarai' bisa disematkan lantaran terlahir dari orang tua yang berasal dari Manggarai dan itu berarti setiap generasi berikutnya akan mewarisi predikat yang sama? Apakah menjadi 'orang Manggarai' adalah hasil dari sebuah proses perjuangan, sebuah kerja nyata untuk memajukan sekaligus melestarikan budaya, adat, tanah-bumi, sungai-laut, falsafah hidup, dan keberlangsungan Manggarai? Atau, apakah 'orang Manggarai' adalah identitas yang dihidupi dan dihayati dalam keseharian? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan saya jawab. Manggarai dalam tema tulisan Orang Manggarai. Untuk itu, saya membagi tema ini dalam empat kelompok besar berikut: 1. Jejak Mereka di Manggarai Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama; sebuah pepatah lama. Manggarai di hari ini adalah jejak karya dari para pendahulu dan para perintis. Tidak semua dari mereka yang namanya diingat, entah itu karena mereka memang tidak ingin dipuja, atau juga karena di hari ini, kita tak punya tempat untuk masa lalu. Untuk mereka tulisan-tulisan ini didedikasikan, sebagai ungkapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Mengutip ucapan Sukarno, Presiden RI yang pertama, "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya". 2. Ata Manggarai(orang manggarai) Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Manggarai: "ata, ata ho'o". Bila diterjemahkan secara lurus, artinya aneh: "orang, orang ini". Ungkapan itu sebenarnya adalah pujian sekaligus penghargaan atas sebuah pencapaian. Ata, ata ho'o, adalah apresiasi atas kerja keras seseorang dalam hal tertentu dalam hidupnya. Ia telah melampaui batasan, dinding ketidak-mungkinan yang dibangun oleh orang-orang disekitarnya. Ini adalah bagian yang khusus didedikasikan untuk para "pelompat batas", dibuat sebagai pengingat bagi generasi muda selanjutnya, bahwa langkas haeng ntala, uwa haeng wulang adalah sari pengalaman, bukan sekadar pepatah. 3. Enu Molas Manggarai(wanita cantik manggarai) Cantik (molas) adalah refleksi kepedulian seorang wanita terhadap sesama, pancaran jiwa tulus dari dalam yang mengalir keluar. "Molas" adalah cara hidup, sebuah 'panggilan' untuk senantiasa menunjukkan cinta dan kepedulian kepada "Nuca Lale", Sang Ibu Bumi Manggarai. Pepatah mengatakan lama mengatakan, Beauty is in the eye of the beholder, penilaian atas kecantikan seseorang terletak pada mata orang yang memandangnya. Molas Manggarai, dalam arti itu, berbeda dari pengertian cantik pada umumnya; di dalamnya ada pengertian, cinta, dan kepedulian atas jati dirinya sebagai seorang perempuan Manggarai. 4. Nara Reba Manggarai Nara= Saudara. Reba= Muda. Itu yang dipahami di sini. Bercermin dari istilah Saudara Muda yang dipakai oleh Para Saudara dari Ordo Fratrum Minorum (OFM), bahwa para frater atau biarawan yang belum mengikrarkan Kaul Kekal dan sedang menjalani masa Studi disebut Saudara Muda, bagian ini ditujukan untuk mengapresiasi karya dan perjuangan putera-putera Manggarai yang sedang berusaha mencapai tahap kedewasaannya. Bersama Enu Molas Manggarai, Saudara-Muda-Manggarai adalah penentu masa depan Manggarai. Di tangan mereka-lah, sejarah dan masa depan Manggarai akan ditulis dan diwariskan. Oleh:edho paju Mahasiswa fakultas hukum,unifersitas sultan ageng tirtayasa(UNTIRTA) jakarta. Kontributor di MARJINNEWS.COM & MARJININFO.COM

KOPI SENJA

Adakah kubisikkan di senjah yang tidak ramah pada kita, kita biarkan kopi menjadi dingin di cangkir tua itu, gerimis pun iba pada air mata di tepi pisah. Bisu mengadu, beku, kopi itu membeku, hati itu kelu. Lagu itu menjadi syahdu. Karena ku jatuh cinta pada caramu menerjemahkan luka. Sebuah bayang menari dan terjatuh pada secangkir kopi senja.  Yang Kau goreskan syair luka pada secangkir kopi lalu kau hempaskan pada senja hingga pecah berkeping. Kuselipkan rembulan pada  sajak sepekan ku, karena malam yang berlalu masih menyimpan janji yang tertunda. Seba'it puisi tentang seseorang yang duduk di bawah sinar rembulan yang menghilang dalam remang gelap. Besok akan kukembalikan rembulan dengan beberapa sketsa tentangmu agar kau tahu senjah berikutnya aku masih terduduk di awan menunggu janji itu, menunggu lamunan itu selesai agar lembar terakhir buku harian itu tergores. Aku menunggu . -Kopi senjah, tetap pahit- Aku tidak pernah membencimu luka, maaf bila syair yang kugoreskan lewat angin timur membuat sendu, tapi engkau tahu luka itu memberi lembayung di sisiku. Kita berdua tahu, kau sang kopi senjah dan aku lembayung senja. Bila aku tak lagi bergantung di matamu, maka sore esok kau hanya akan menjadi ampas. Tapi aku tetaplah senja. Aku hanya penambah nikmat indah bagi hati syahdu yang slalu merindu luka di setiap sore yang mampu aku datangi. Tidak perlu berduka,katamu. engkau tetap indah tanpaku. Bila di hari esok kau berhati syahdu terduduk di serambi, semoga kau sempatkan melihat sore hadir menyapa kopi yang mulai dingin. Kau tertunduk lesu karena malam mencuri senjamu. Lembayungmu telah disiram amat hitam, pekat menjalar tak menyisakan ruang warna tapi jangan kau salah kan syair magis agin timur.

Edho paju

Jumat, 22 Juni 2018

MAWAR POLITIK

Tiga anak kecil/ Dalam langkah malu-malu/ Datang ke Salemba/ Sore itu. Akrab, atau bahkan mungkin hafal dengan kalimat-kalimat sederhana yang sangat deskriptif itu? Ya, itu adalah penggalan awal baris-baris puisi Taufiq Ismail berjudul 'Karangan Bunga' yang kita pelajari sejak SMP dulu. Jika kita ingat lanjutannya —Ini dari kami bertiga/ Pita hitam pada karangan bunga/ Sebab kami ikut berduka/ Bagi kakak yang ditembah mati/ Siang tadi— maka terlihat bahwa dalam puisi itu karangan bunga dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan duka cita. Termuat dalam buku 'Tirani dan Benteng' yang pertama kali terbit pada 1966, puisi tersebut lahir dari situasi politik masa itu. Kala itu, terjadi demonstrasi mahasiswa melawan pemerintah Orde Lama. Bunga, setidaknya dalam puisi itu, terasa dekat dengan dunia politik, menjadi idiom untuk mewakili sebuah sikap polos dari anak-anak yang bersimpati pada perjuangan mahasiswa. Bunga memang bisa menjadi apa saja, untuk mewakili ungkapan perasaan. Sampai-sampai, ada peribahasa yang sangat terkenal; ungkapkanlah dengan bunga. Pada Sitor Situmorang, bunga mewakili perasaan kesepian yang teramat sangat. Simak puisi pendeknya yang cukup terkenal, 'Bunga di Atas Batu': bunga di atas batu/ dibakar sepi // mengatas indera/ ia menanti // bunga di atas batu/ dibakar sepi Kelak, di kemudian hari, bunga menjelma menjadi simbol perjuangan yang "nggegirisi" pada puisi Wiji Thukul, penyair-aktivis yang hilang dalam huru-hara Reformasi 1998. Seumpama bunga/ kami adalah bunga yang tak kau kehendaki/ tumbuh…//…kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi/ kami sendiri // jika kami bunga/ engkau adalah tembok/ tapi di tubuh tembok itu telah kami tebar biji-biji/ suatu saat kami akan tumbuh bersama/ dengan keyakinan: engkau harus hancur. Imajinasi sang penyair yang ingin menghancurkan tembok dengan menebar biji yang kelak tumbuh bunga, merupakan sesuatu yang menggetarkan. Mengapa bunga? Menghancurkan tembok dengan bunga? Sungguh mengejutkan bahwa Wiji Thukul, seorang buruh yang berorganisasi dan menulis puisi, menggunakan matafora bunga sebagai sesuatu yang kelak menumbangkan tirani. Kita pun jadi ingat sebuah cerita pendek yang legendaris karya Kuntowijoyo yang ditulis pada 1968, berjudul 'Dilarang Mencintai Bunga-bunga'. Cerpen ini mengisahkan hubungan antara sang tokoh utama, seorang bocah dengan bapaknya yang mendidik dirinya dengan keras. Sang bapak selalu menunjukkan wibawanya sebagai orangtua dengan menanamkan nilai-nilai keberanian dan kekuatan seorang laki-laki kepadanya. Namun, secara ironis, sang bocah justru memperlihatkan kecenderungannya menyukai bunga-bunga, yang dianggap sebagai simbol kelemahan. Hal itu akibat dari persahabatannya dengan seorang kakek tetangga dekat rumahnya, yang mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diajarkan sang ayah. Sang kakek gemar merawat bunga, dan bocah itu belajar darinya tentang makna kedamaian dan keindahan; bahwa selain keberanian dan kekuatan seperti yang diajarkan ayahnya di rumah, orang perlu juga mengenal nilai-nilai kelembutan dan ketenangan, yang disimbolkan dengan bunga --sesuatu yang membuat sang ayah marah. Bunga memang subversif. Ia bisa terasa mengusik, mengganggu, mengancam, dan mengintimidasi karena kekayaan makna yang bisa disampaikan olehnya. Ketika seseorang merayakan sebuah kebahagiaan atau kemenangan dalam hidupnya, lalu mendapatkan hadiah bunga, maka yang terjadi adalah sebuah kelaziman. Bunga seolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana mestinya. Namun, ketika ada orang yang kalah dalam sebuah pertandingan, katakanlah menjadi "pecundang", namun mendapat kiriman karangan bunga yang mengalir tiada henti, maka hal itu menjadi masalah. Bunga tiba-tiba menjadi sesuatu yang "melawan kodrat"-nya; dan itu membuat banyak orang gelisah. Masa orang yang sedang "menderita" kekalahan justru mendapat ungkapan simpati lewat bunga, ini jelas ndak benar! Pasti semua itu hanya rekayasa. Maka, timbullah berbagai spekulasi, komentar dan analisis; ada yang mengatakan bunga-bunga itu adalah rekayasa —sebenarnya pengirimnya hanya satu orang, dengan ucapan yang dibuat bermacam-macam. Bunga-bunga itu adalah sebuah "kecelakaan"; sudah telanjur dipesan untuk merayakan kemenangan, namun ternyata kekalahanlah yang didapat, maka dibuatlah seolah-olah bunga-bunga itu adalah bentuk dukungan spontan tanda simpati. Ada juga yang dengan lantang dan keras berteriak, bunga-bunga itu hanyalah pencitraan murahan. Namun, semakin orang mengomentari macam-macam soal bunga-bunga itu, justru diam-diam semakin menunjukkan bahwa orang mengakui sedemikian besar makna bunga-bunga itu. Bunga-bunga yang diam membisu itu, pasrah diterpa angin atau pun hujan, seolah-olah bicara sendiri; bicara banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apapun kata orang, faktanya, bunga-bunga terus mengalir, meluber sampai tak tertampung di tempat yang semestinya. Orang-orang bahkan rela antri untuk berfoto bersama bunga-bunga itu, atau memfoto satu per satu karangan bunga itu sendiri, lalu menyebarkannya. Sehingga, orang bisa membaca ucapan yang tertera pada tiap-tiap karangan bunga itu, yang semuanya bernada lucu-lucu. Bunga-bunga itu ternyata seolah-olah sedang menertawakan diri sendiri, menertawakan sebuah kekalahan yang memang mau diapain lagi, namanya sudah kalah…. Pada akhirnya, bunga-bunga yang dipersoalkan oleh sebagian kelompok orang itu ternyata justru pertama-tama bukan ditujukan kepada pihak penerima. Melainkan, bunga-bunga itu —kalau kita lihat fotonya satu per satu yang beredar di sosmed— sebenarnya ditujukan untuk kesenangan dan hiburan pihak pengirimnya sendiri, sebagai bentuk lucu-lucuan, main-main, dengan berbagai ucapan yang aneh-aneh; dari 'undangan pernikahan' hingga berbagai plesetan dan lawakan lainnya. Dan, hal itu pun ternyata justru semakin membuat sebagian orang, kelompok-kelompok tertentu, yang merasa terganggu, terancam, terintimidasi, semakin merasa gimanaaa…gitu. Lho, wong kalah kok malah tertawa. Bersuka ria dengan bunga-bunga. Foto-foto. Mestinya kan sedih dan menangis tersedu-sedu. Terpuruk menyesal di pojokan. Lagi-lagi, ini jelas ndak benar! Tapi, seperti kata kakek pecinta bunga sahabat sang bocah dalam cerpen Kuntowijoyo tadi, "Menangis adalah cara yang sesat untuk meredakan kesengsaraan. Kenapa tidak tersenyum, Cucu? Tersenyumlah. Bahkan, sesaat sebelum orang membunuhmu. Ketenangan jiwa dan keteguhan batin mengalahkan penderitaan. Mengalahkan, bahkan kematian…." Ah, seandainya bunga-bunga itu sejak awal dibiarkan saja —tapi, apa mungkin? Dari aromanya saja, bunga-bunga dengan aneka warna yang indah itu kadang memang bisa meresahkan. Bunga mawar di malam Jumat misalnya, bikin bulu kuduk merinding. Bunga memang bisa menjadi apa saja, bermakna apa saja, ditafsirkan sebagai apa saja. Ya, politik bunga itu sungguh subversif. Kabar terakhir, mereka membakar bunga-bunga itu….

EDHOPAJU
MJN/JAKARTA

INDONESIA DAN NASIONALISME

Nasionalisme di Indonesia Sama seperti agama, nasionalisme diprediksikan akan lenyap sejalan dengan semakin sebuah negara menjadi modern. Menurut Ian Adams, para ilmuwan politik Amerika Serikat era 1970–1980-an mempertahankan tesis semacam ini karena mereka melihat bahwa pertama, hasrat untuk bersatu sebagai bangsa (nationalist passion) hanyalah salah satu tahap menuju sebuah negara modern yang liberal dan demokratis di mana kepentingan-kepentingan yang lebih pragmatik dan individual akan lebih mendominasi corak kehidupan masyarakat dibanding kebutuhan akan penegasan diri dalam sebuah identitas nasional (Ian Adams, Political Ideology Today, 1995: 83). Kedua, nationalist passion kalah bersaing dengan menguatnya politik identitas di mana orang mengidentifikasi diri tidak lagi dengan sebuah bangsa, tetapi dengan sebuah etnis atau agama tertentu. Tesis ini seakan menemukan kebenaran ketika satu persatu negara bagian Uni Soviet melepaskan diri dan menjadi negara merdeka berdasarkan kesamaan etnis dan agama. Ketiga, hasrat untuk bersatu sebagai bangsa kehilangan raison d’ĂȘtre ketika diterjang gelombang globalisasi. Di sini orang mempertanyakan relevansi nasionalisme ketika batas-batas wilayah negara menjadi semakin kabur dan negara-negara “terpaksa” masuk menjadi anggota dari “a borderless society” karena tuntutan atau dikte pasar bebas dan liberalisasi ekonomi (bdk I Wibowo dkk, Neoliberalisme, Cindelaras, 2003: 326–331). Dalam konteks pemikiran semacam ini, apakah nasionalisme Indonesia pun akan segera berakhir? Pertanyaan ini relevan untuk didiskusikan ketika kita akan merayakan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, ketika para pemuda Indonesia bertekad untuk berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu, Indonesia. Tidak Cukup Hanya Hasrat Untuk Bersatu Kita belajar dari sejarah bahwa telah ada banyak sekali organisasi kepemudaan sebelum peristiwa Sumpah Pemuda, sebut saja Jong Java, Jong Sumatera, Jong Selebes, Jong Ambon, dan sebagainya. Meskipun demikian, nationalist passion yang sifatnya etnis dan kedaerahan ini justru semakin melemah sejalan dengan mengentalnya kesadaran akan keindonesiaan sebagai sebuah “identitas baru” vis-a-vis pengalaman kolektif berada di bawah kekuasaan bangsa penjajah. Perjuangan organisasi-organisasi seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) di Indonesia dan Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda yang eksplisit memperjuangkan kemerdekaan Indonesia jelas menunjukkan adanya kristalisasi pengalaman keindonesian ini, dengan puncaknya adalah pernyataan tekad satu bangsa, satu tanah air dan satu bangsa Indonesia. Demikianlah, pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh pemerintah Hindia Belanda, terutama selama tahun 1830–1870, telah melahirkan sebuah kesadaran dan pengalaman bersama sebagai masyarakat terjajah, kemudian berkembang menjadi sebuah bangsa terjajah (Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional. Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. 1993: 58-64). Karena itu, nasionalisme Indonesia adalah sebuah nasionalisme bentukan, sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi karena pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh bangsa kolonial Belanda. Itulah nasionalisme Indonesia, yakni sebuah penegasan akan identitas diri versus kolonialisme-imperialisme. Kesadaran sebagai bangsa yang adalah hasil konstruksi atau bentukan mengandung kelemahan internal yang serius ketika kolonialisme dan imperialisme tidak lagi menjadi sebuah ancaman. Karena itu, nasionalisme kita akan ikut lenyap jika kita berhenti mengkonstruksi atau membentuknya—tanpa harus menyebutnya sebagai sebuah nasionalisme baru. Pertama, beberapa pengalaman kolektif seharusnya menjadi “roh baru” pembangkit semangat nasionalisme Indonesia. Misalnya, keberhasilan para siswa kita dalam olimpiade Fisika, Kimia, Biologi atau Matematika di tingkat regional dan internasional, keberhasilan atlet menjadi juara dunia (tinju), prestasi pemimpin kita menjadi menteri ekonomi terbaik di Asia (Dr. Sri Mulyani Indrawati) dan seterusnya. Sebaliknya, pengalaman dicemoh dan direndahkan sebagai bangsa terkorup, sarang teroris atau bangsa pengekspor asap terbesar seharusnya memicu kita untuk berubah dan tampil sebagai bangsa terpandang. Kedua, negara Indonesia sangat plural. Identifikasi sebuah kelompok etnis atau agama pada identitas kolektif sebagai bangsa hanya mungkin terjadi kalau negara mengakui, menerima, menghormati, dan menjamin hak hidup mereka. Masyarakat akan merasa lebih aman dan diterima dalam kelompok etnis atau agamanya ketika negara gagal menjamin kebebasan beragama—termasuk kebebasan beribadah dan mendirikan rumah ibadah, persamaan di hadapan hukum, hak mendapatkan pendidikan yang murah dan berkualitas, hak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak, dan sebagainya. Nasionalisme Kita Harus Bersifat Liberal Nasionalisme bisa dipraktikkan dalam sebuah sistem pemerintahan sosialis, komunis, ultranasionalis, etnis, atau liberal-demokratis. Masyarakat Indonesia yang sangat plural ini akan menjadi ancaman serius bagi nasionalisme jika negara kebangsaan yang kita bangun bersifat sosialis, ultranasionalis a la nazisme Jerman dan fasisme Italia, atau komunis. Alasannya sederhana, hak individu akan kebebasan, otonomi dan kesetaraan (equality) dalam masyarakat dirampas oleh negara dalam sistem pemerintahan sosialis, komunis, dan ultranasionalis (Ian Adams, 1995: 82). Sementara itu, nasionalisme etnis hanya akan menghasilkan sebuah sistem pemerintahan etnosentris yang anti pluralisme, anti hak-hak liberal dan demokratis warga negara sebagaimana termuat dalam pasal 28A – 28J UUD 1945. Nasionalisme etnis juga akan melahirkan praktik politik yang diwarnai oleh “diktator mayoritas” dan pembelengguan hak-hak kaum minoritas (Roger Eatwell dkk, Political Ideologies Today, 2001: 162–166). Tantangan bagi nasionalisme Indonesia ke depan adalah bagaimana kita mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang bersifat liberal-demokratis di mana hak-hak dasar setiap warga negara diakui, dihormati, dan dijamin, di mana hukum ditegakkan secara pasti dan adil, di mana negara mewujudkan kesejahteraan umum, dan sebagainya. Itulah alasan dasar tekad para pemuda 78 tahun yang lalu, yakni menjadi satu Indonesia demi mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur

Kamis, 21 Juni 2018

Drama Politik Kaum Hipokrisi yang Tak Kunjung usai.

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung,biaya sewa, harga sepatu, dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membencipolitik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.” (Bertolt Brecht) Bertolt Brecht adalah salah seorang penyair jerman, penentang keras kediktaktoran rezim Hitler (Nazi). Dewasa ini, ada fenomena baru dikalangan generasi muda, sebuah slogan, mungkin. Para generasi muda khususnya mereka yang mengecap pendidikan diperguruan tinggi di berbagai kota besar Indonesia, oleh mereka banyak sudah wadah-wadah, organisasi, kelompok, atau komunitas diluar kampus (ekstra kampus) dibangun. Kelompok-kelompok tersebut dibangun dengan berbagai latar belakang yang berbeda, entah itu kelompok kedaerahan, keagamaan, kekeluargaan, ataupun kesukuan dan sebagainya. Didalam kelompok-kelompok kecil tersebut, tidak begitu banyak mahasiswa yang terlibat. Mereka yang terlibat, tentu juga dipengaruhi oleh berbagai banyak hal. Namun, kondisi tersebut merupakan suatu kemajuan dari upaya mengaktualisasikan dirinya didalam kehidupan mahasiswanya, tidak peduli faktor apa yang mempengaruhinya. Namun, ketika kalangan mahasiswa tersebut diajak untuk mendiskusikan soal kondisi sosial dan politik daerah terlebih soal kondisi bangsa ini, mereka justru mengatakan bahwa kelompok mereka (mahasiswa) tersebut bukan kelompok yang dibangun untuk membicarakan politik. Seolah-olah politik seperti racun yang berbahaya. Memang tidak semua dari mereka yang berjalan kaku yang terbentur dengan aturan-aturan formal kelompoknya. Jika disinggung soal sense of crisis mereka melakukan pembelaan, namun tetap saja bersikap ambigu, dan cenderung naïf. Disamping kelompok tersebut, ada kelompok-kelompok mahasiswa yang begitu getol berbicara soal politik, tetapi cukup pragmatis dan cenderung oportunis. Diluar dari kelompok-kelompok tersebut, ada kelompok independen, mereka adalah kelompok-kelompok diskusi, kelompok minoritas yang secara konsisten mempertahankan independensinya dari pengaruh kepentingan politik. Namun, kelompok tersebut tidak sedikit mengalami hambatan ataupun kendala, entah itu terbatasnya kalangan mahasiswa yang terlibat, ataupun persoalan-persoalan lain, karena mereka meletakkan nilai-nilai perjuangannya berdasarkan nilai-nilai kebersamaan (kolektif kolegial). Di hongkong, belakangan ini telah terjadi gelombang demonstrasi yang cukup besar dan konsisten. Mereka secara Konsisten memperjuangkan hak penuh terhadap proses pemilihan langsung. Pada 1998 negara Inggris menyerahkan kedaulatan hongkong terhadap Tiongkok. Hingga saat ini, masyarakat hongkong merasakan ketidaknyaman terkait demokrasi palsu yang diciptakan tiongkok. Hingga akhirnya, para masyarakat pro-demokrasi memutuskan untuk melakukan perlawanan dengan turun ke jalan, melalui pemboikotan pusat-pusat perekonomian dunia. Saat ini, pasca 16 tahun reformasi, kita seolah-olah diingatkan kembali pada kediktaktoran rezim orde baru. Pada masa itu, tentu peran mahasiswa atau pun pemuda begitu besar. Gerakan-gerakan moral tersebut seolah semakin memudar. Pada 2012 terjadi gelombang demonstrasi yang cukup besar, terkait penolakan kenaikan harga bbm, gerakan tersebut cukup membekas hingga pemerintah membatalkan niatnya tersebut . Di tahun 2013, wacana kenaikan harga bbm kembali menjadi polemik, dan disambut dengan gelombang demonstrasi, namun kenaikan harga bbm tidak terbendung dan berlaku hingga saat ini. Peranan kelompok mahasiswa/pemuda tersebut patut diapresiasi, melalui gerakan-gerakan moral yang telah dibangun,ditengah arus modernisasi saat ini,tentu tidak sedikit dari mereka yang dengan sadar mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi. Tentu mereka adalah manusia-manusia yang sadar, bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi, jika sekiranya mereka hanya duduk dan terbuai dengan teori-teori di ruangan kelas mereka. Tentu mereka sepakat dengan Bertolt Brecht, dan sadar bahwa kaum buruh, anak yang putus sekolah, kaum miskin kota, pedagang-pedagang kecil, para lanjut usia, dan kita, tidak akan mendapatkan perbaikan hidup yang layak jika tidak melakukan perlawanan terhadap penguasa-penguasa yang culas, yang mementingkan dirinya maupun golongannya. Belakangan ini, konstelasi politik dalam negeri mengalami pergolakan begitu tinggi. Drama politik kembali dipertontonkan oleh elit-elti politik (kaum hipokrisi). Tiada hal lain selain kekuasaan yang diperebutkan. Kontestasi politik tersebut diperankan oleh 2 kubu (kekuatan politik) dalam bentuk koalisi, ada yang menamakan dirinya Koalisi Indonesia Hebat dan yang lainnya menamakan diri Koalisi Merah Putih. Mereka menamakan koalisi yang mereka bangun begitu puitis, dan seolah-olah begitu nasionalis. Pasca pilpres 2014, kontestasi politik menjadi begitu sengit. Pilpres yang dimenangkan oleh koalisi Indonesia hebat, seakan menciptakan dendam tersendiri bagi koalisi merah putih. Mulai dari gugatan soal hasil pilpres, revisi UU MD3, hingga pengesahan RUU Pilkada, yang mengembalikan pilkada kepada DPR.Pengembalian Pilkada terhadap DPR tentu merupakan sebuah dekadensi demokrasi. Hal tersebut tentu menegaskan bahwa demokrasi yang telah dibangun, dan sedang bertumbuh telah dicederai oleh egosentris para kaum hipokrisi. Banyak reaksi penolakan yang muncul, hingga wacana untuk melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Memang pada kenyataannya, pemilihan langsung, tidak menelan biaya yang sedikit. Banyak praktek-praktek kotor yang terjadi, entah itu politik uang, kampanye hitam, dan lainnya. Namun tidak bisa dipungkiri dengan diberlakukannya pemilihan langsung, Indonesia telah tumbuh sebagai Negara yang menjunjung tinggi demokrasi, walaupun masih dalam proses pembelajaran menuju Negara demokrasi yang dewasa. Seolah-olah gerakan reformasi yang tidak sedikit menelan korban, bahkan masih ada 13 aktivis hingga saat ini belum ditemukan dan dinyatakan hilang, seakan proses tidak mendapat perlakuan yang bijak dari para penyelenggaraNegara kita.Pengesahan RUU Pilkada telah menjadi bukti, bagaimana mereka-mereka yang haus kekuasaan rela menodai demokrasi itu sendiri. Apa yang bisa kita harapkan dari mereka?. Tentu harapan masih tetap dan akan ada, terlebih munculnya kepemimpinan populis yang diperlihatkan Jokowi, bersama koalisi Indonesia hebat, dan dengan dukungan relawan, kita tentu menaruh harapan terhadap perbaikan bangsa kedepannya. Namun, tidak mutlak dan tidak ada jaminan yang konkret dari mereka. Disatu sisi dukungan koalisi mereka melalui parlemen yang kurang memadai, di sisi lain, oknum-oknum dalam lingkaran koalisi mereka masih memiliki catatan hitam masa lalu, dan tidak menjamin bahwa mereka akan berjuang secara total demi kepentingan rakyat. Bahkan kaum hipokrisimengatakan bahwa politik itu dinamis dan fleksibel. Kita hanya bisa berharap pada gerakan-gerakan yang dibangun berdasarkan moral, berdasarkan keterpanggilan kita terhadap perbaikan nasib bangsa. Kepada para pemuda/i, mahasiswa/i, kaum cendikiawan, dan manusia-manusia Indonesia yang tetap dan masih rindu terhadap perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kita masih memiliki hak untuk memperjuangkan hak kita.

Oleh:edho paju
Mahasiswa fakultas hukum
Unifersitas sultan agoeng tirtayasa jakarta